Padi Program ATP Batan Panen Perdana

MI
30/7/2015 00:00
Padi Program ATP Batan Panen Perdana
(MI/DJOKO SARJONO)
BADAN Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Klaten bekerja sama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengembangkan program Agro Techno Park (ATP) di Klaten, Jawa Tengah. Untuk kegiatan tahun pertama, itu dilaksanakan di Desa Sentono, Kecamatan Karangdowo, dengan luasan sawah 5 hektare.

Pada kegiatan ATP bidang pertanian di Desa Sentono, penanaman (demplot) padi 10 varietas hasil penelitian dan pengembangan Batan telah dilakukan.

Produktivitas varietas padi program ATP yang ditanam mulai awal Mei sangat membanggakan.

Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Klaten Wahyu Haryadi pada panen perdana padi Batan program ATP di Desa Sentono, kemarin, melaporkan hasil ubinan dari 10 varietas itu cukup tinggi, seperti varietas dyah suci mencapai 9,72 ton per hektare, woyla 9,44 ton, inpari sigenuk 9,23 ton, dan cilosari 8,8 ton.

Panen perdana padi program ATP Batan di Desa Sentono dilakukan Bupati Klaten Sunarno bersama Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto, didampingi Sekretaris Utama Batan Falconi Margono, Dandim 0723 Letkol (Inf) Thomas Heru, Wakapolres Komisaris Hendri Yulianto, dan Kepala Dinas Pertanian Klaten Wahyu Prasetyo.

Wahyu Haryadi mengharapkan pelaksanaan program ATP di Klaten dapat meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan petani di daerah tersebut.

"Kami juga berharap Klaten tidak hanya dikenal sebagai penghasil padi, tapi juga benih. Hasil panen ini juga direncanakan untuk benih," kata dia di sela-sela panen perdana.

Pada kesempatan itu, Bupati Sunarno mengaku bangga hasil ubinan padi program ATP Batan di Desa Sentono mampu menghasilkan 9,72 ton per hektare. "Hasil ini sungguh membanggakan kita semua. Kalau bisa produktivitas 10 ton agar petani sejahtera," kata Sunarno.

Bupati berharap inovasi peningkatan produksi pangan tidak hanya padi, tapi juga tanaman pangan lainnya. Untuk itu, kelompok tani diminta bekerja keras agar produksi padi meningkat dan tidak impor beras.

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto menjelaskan program ATP itu selain di Klaten, dilaksanakan di Kabupaten Musirawas, Sumatra Selatan, dan Polewali Mandar, Sulawesi Selatan.

Tiga kabupaten itu dipilih karena pemerintah daerah bersangkutan sangat antusias dalam meningkatkan produksi pangan.

"ATP tidak boleh gagal karena kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan produksi pangan dan daya saing," kata Djarot.

Daerah pun bisa mandiri secara pangan ataupun pasokan bibit.(Tim/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya