Kemarau Dongkrak Harga Pangan

Liliek Darmawan
29/7/2015 00:00
Kemarau Dongkrak Harga Pangan
Petani memotong batang padi yang kering karena kekurangan air di Pamekasan, Jawa Timur, kemarin.(ANTARA/Saiful Bahri)

KEKERINGAN akibat dampak El Nino telah membuat banyak lahan pertanian mengalami puso. Akibatnya, petani terancam gagal panen dan harga produk pertanian, terutama beras, kini melonjak tajam.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia di berbagai daerah, kemarin, setelah panen, petani enggan menanam kembali karena lahan di persawahan mereka tidak ada lagi air yang mengalir.

Di Cilacap, Jateng, 4.300 ha lahan persawahan menge-ring, 553 hektare di antaranya sangat berpotensi puso. Di Cirebon, Jabar, lahan yang terancam puso mencapai 8.000 ha. Di Nusa Tenggara Timur, 19 kabupaten dan kota melaporkan bahwa lahan pertanian mereka telah mengalami kekeringan.

Ancaman puso telah mendongkrak harga gabah, beras, dan produk pertanian lainnya. Saat panen sebelum Lebaran harga gabah kering panen (GKP) di kisaran Rp3.500 per kilogram, kini menjadi Rp4.300/kg hingga Rp4.600/kg. Kenaikan itu terjadi di Banyumas, Jateng, hingga Bojonegoro, Jatim.

"Harga gabah cukup tinggi, tapi kita juga belum berani tanam lagi karena kemarau," kata Arif Rokhman, petani Desa Samberan, Kecamatan Kanor, Bojonegoro, kemarin.

Harga beras juga ikut naik tajam. Di Subang, Jabar, harga beras medium IR-64 di tingkat pengecer mencapai Rp8.800/kg dari harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp7.300/kg. Bahkan di NTT, harga beras jenis yang sama menjadi Rp9.000/kg.

"Saya baru beli beras medium, ternyata sudah naik Rp5.000 per karung, dari Rp205 ribu/karung menjadi Rp210 ribu/karung," keluh Nunung, pemilik warung sembako di Desa Cangkring, Kelurahan Kejaksan, Kota Cirebon, kemarin.

Selain harga naik, menurutnya, kualitas beras juga menurun akibat dampak kemarau. Komoditas pertanian yang harganya juga naik akibat kemarau di antaranya cabai rawit.

Di Pasar Pembangunan, Pangkalpinang, Bangka Belitung, komoditas pedas itu dijual Rp64 ribu/kg dari harga sebelumnya Rp42 ribu/kg.

Bangun embung

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku sudah mengantisipasi datangnya kemarau sejak Januari lalu dengan pembangunan irigasi, pembuatan sumur dangkal, dan pembagian pompa air.

"Tahun ini kita juga mengalokasikan Rp2 triliun untuk membangun embung di daerah rawan kekeringan," ujar Amran saat berkunjung ke Desa Tlogopucang, Kecamatan Kadangan, Kabupaten Temanggung, kemarin.

Kalangan akademisi menilai peluang terjadi krisis pangan akibat kemarau masih tinggi dan 800 ribu ha sawah terancam puso.

"Kita betul-betul serius soal kekeringan," papar Guru Besar Bidang Pangan IPB, Dwi Andreas Santosa, di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan akibat dampak El Nino, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menekankan pentingnya tindakan pencegahan.

"Keseriusan kita dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan ini tertuang dalam ratifikasi Perjanjian ASEAN mengenai Pencemaran Asap Lintas Batas," terangnya dalam konferensi pers Pertemuan Ke-17 Menteri Lingkungan Hidup Subregional ASEAN di Jakarta, kemarin.

(UL/RZ/PO/AM/TS/Fat/X-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya