Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PUKUL 06.30 Wita, Sahiban sudah berada di sawahnya. Namun, hal pertama yang ia lakukan saban pagi itu bukanlah mengecek keadaan tanaman, melainkan memeriksa tabung berbahan seng yang dipasang di lahan tersebut. Ke dalam tabung yang disebut centong itu, Sahiban akan memeriksa ketinggian air yang tertampung. Alat bantu yang digunakan Sahiban hanyalah penggaris. Kemudian milimeter ketinggian air akan ia catat di buku. Pencatatan itu sudah dilakukan Sahiban dan petani-petani lain di Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, sejak akhir 2014. Data curah hujan itu mereka pergunakan untuk membantu menentukan tanaman yang akan ditanam di musim berikutnya. "Setelah (pencatatan) satu bulan, kami akan diskusi dengan membaca evaluasi dari catatan harian curah hujan," kata Zulkarnaen, petani Desa Pandan Wangi, saat ditemui Media Indonesia, Selasa (19/7) di lahannya. Jika pencatatan menunjukkan lebih banyak hari hujan, pada masa tanam berikutnya mereka akan menanam tanaman basah seperti padi.
Jika pencatatan menunjukkan sebaliknya, mereka akan menanam tanaman kering seperti tembakau. Meskipun pencatatan dilakukan setiap hari, data di bulan terakhir sebelum panen yang paling akan menjadi perhatian mereka. Para petani itu juga mempertimbangkan perkiraan musim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Memang, meski sebagian besar petani patuh pada data yang didapat dari pengamatan menggunakan centong, ada pula yang kadang memutuskan lain. Seperti Sahiban yang justru saat ini menanam tembakau meski pencatatan masa tanam sebelumnya menunjukkan lebih banyak hari hujan. Akibatnya kini dirasakan sendiri oleh Sahiban. Sudah sebulan ditanam, tembakaunya belum juga mencapai ketinggian semestinya, yakni 50 sentimeter. "Sering hujan. Jadi, tanaman tembakau ini tidak tumbuh baik, sudah dipastikan sangat sedikit yang bisa dipanen," jelas Sahiban di lahan 100 meter persegi miliknya.
Ya, meski cuaca hari itu panas menyengat, hari-hari lainnya justru lebih sering hujan. Zulkarnaen juga tidak sepenuhnya mengikuti data centong. Namun, ia melakukan antisipasi kegagalan dengan menanam dua varietas, tembakau dan padi. Hal itu ia lakukan karena sesungguhnya ia sendiri merasakan perbaikan panen semenjak mengikuti metode centong. "Setelah adanya metode ini, panen justru lebih baik karena kami rutin datang ke sawah dan memastikan keadaan sawah harus baik. Pada 2014 itu di luas lahan 500 meter persegi, panen padi mencapai 4.400 kg. Saat kami menggunakan metode pengukur curah hujan tersebut pada 2015 panen mencapai 4.468 kg," tuturnya.
Antisipasi bukan meramal
Metode mengukur curah hujan dengan alat centong tersebut diperkenalkan profesor dari Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia, Yunita T Winarto. Ia memperkenalkan metode itu bersama rekannya, seorang ahli agrometeorologi, (alm) Kees Stigter, kepada para petani di beberapa wilayah Kabupaten Lombok Timur. Yunita mengaku awalnya gemas melihat para petani yang ingin belajar banyak tentang ilmu pengetahuan sekaligus miris akan kondisi gagal panen. Namun, pencatatan kondisi cuaca harian bukan berarti membuat kita bisa menghasilkan simpulan akan ramalan cuaca di tahun mendatang. Data tersebut hanya menjadi acuan antisipasi untuk memilih tanaman yang seharusnya di tanam. "Nanti petani semakin paham, kalau kondisi hujannya seperti ini, curah hujannya akan mencapai angka sekian. Seminggu diperhatikan maka akan bisa menjadi simpulan pilihan tanaman," ungkapnya.
Data curah hujan tidak bisa digeneralisasi. Setiap lokasi pasti memiliki data yang berbeda. Metode semacam itu juga diterapkan bagi petani di wilayah Indramayu yang juga mendapat bantuan dana pembiayaan dari ICCTF (Indonesian Climate Change Trust Fund) dan donor asing lainnya. Petani, imbuh Yunita, memang masih mengandalkan kearifan lokal sebagai acuan tanam dan panen. Namun, bukan berarti mereka tertutup untuk beradaptasi dengan kemajuan masa kini. "Baik di Indramayu maupun Lombok Timur memiliki satu kepercayaan, tetapi kan kita lihat sendiri perubahan iklim sudah tidak bisa ditebak sehingga harus dipadukan antara kearifan lokal dan pengetahuan akademis," pungkasnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved