Tertimbun Reruntuhan Rumah, Bayi 6 Bulan Selamat

Kristiadi
22/7/2016 16:22
Tertimbun Reruntuhan Rumah, Bayi 6 Bulan Selamat
(Ilustrasi/Antara)

HUJAN deras yang terjadi sejak Kamis (21/7) siang hingga malam mengakibatkan 21 rumah di Kampung Citeureup, Desa Sukapada, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya mengalami longsor hingga lainnya terancam bergeser.

Bahkan, longsoran tersebut menyebabkan satu rumah rusak berat dan mengakibatkan seorang bayi berumur 6 bulan tertimbun bata dan pasir namun berhasil diselamatkan dan hanya mengalami luka-luka.

"Pergerakan tanah dan tanah longsor terjadi pada pukul 07.00 WIB menimpa satu rumah mengakibatkan kondisi rusak berat dan 20 rumah lainnya mengalami rusak ringan, sedang, dan berat. Akan tetapi, kondisi tersebut juga menyebabkan satu bayi bernama, Ahsan, 6 bulan 1 minggu, anak pasangan Nana, 32, dan Aas, 32, mengalami luka-luka lebam pada tubuhnya setelah satu kamar ambrol dan menimpanya. Sedangkan ibu dan ayahnya sedang menonton televisi. Untung dalam kejadian itu bisa terselamatkan meski salah satu kamar mengalami rusak berat dan korban telah dilarikan ke Puskesmas Pageurageung untuk dirawat," kata Camat Pageurageung Odik Kadarusman, Jumat (22/7)

Odik mengatakan kondisi pergerakan tanah akan terus terjadi saat kondisi tengah hujan karena pergerakan tanah mengalami pergerakan hingga 1 milimeter.

Akan tetapi, pergerakannya lambat meskipun imbauan itu sudah dilakukan dengan menempelkan berbagai spanduk, pamlet, dan pengeras suara agar warga yang tinggal harus mengungsi terutama jika hujan terjadi.

"Kami sudah berupaya melakukan langkah dengan melakukan pengumuman bagi masyarakat terutama yang tinggal di perbukitan agar mengungsi, karena pergerakan tanah yang terjadi akan mengancam keselamatan terutama saat hujan yang terjadi sekarang ini. Akan tetapi, jika bayi berusia 6 bulan tidak diselamatkan akan menimbulkan kematian dalam waktu 15 menit dan itu juga harus discan terutama pada tubuhnya karena hanya mengalami luka-luka tetapi dalam tubuhnya bisa berbahaya," ujarnya

Selain itu, Odik mengungkapkan kondisi pergerakan tanah tidak akan berhenti dan akan terus mengalami pergerakan meski pergerakan itu hanya 1 milimeter dalam satu hari.

Akan tetapi, menurut kajian LIPI yang telah melakukan pemeriksaan, pergerakan berantai terus terjadi meski kondisinya lambat dan juga mereka mengatakan adanya saluran air yang mengalir di bawah permukaan tanah yang sekarang dijadikan menjadi bangunan masyarakat.

"Kondisi darurat kriteria yang dilakukan pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sekarang ini belum ada kejelasan. Meski setiap hari masyarakat dirundung kesedihan, kecemasan dan penyesalan meski tidak pernah mengeluhkan darurat makanan. Karena makanan yang mereka makan tidak ada kesulitan, akan tetapi darurat yang mereka harapkan harus pindah kemana dan membangun rumah kemana? Meski sekarang yang menjadi persoalan, banyak bangunan yang permanen sudah mengalami keretakan," paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tasikmalaya Kundang Sodikin mengatakan pihaknya membenarkan adanya pergerakan tanah yang telah mengakibatkan satu balita tertimpa reruntuhan bata dan pasir di dalam kamar.

Akan tetapi dalam kejadian itu tidak menimbulkan korban jiwa, karena bayi tersebut telah terselamatkan oleh kedua orangtuanya hingga dilarikan ke Puskesmas Pageurageung.

"Pergerakan tanah yang terjadi di Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya ini hanya menimbun seorang bayi dalam kondisi tertidur, untungnya kedua orangtua bisa menyelamatkan setelah tumpukan bata dan pasir menimbunnya anaknya hingga langsung melarikan ke Puskesmas. Akan tetapi, pergerakan tanah yang terjadi itu dalam kondisi berantai dan pergeserannya pun lama, tetapi dalam kejadian tersebut hanya 1 rumah dalam kondisi rusak dan 20 terancam mengalami kerusakan," ungkapnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya