Simina Banjir, Alat Deteksi Dini Bermodal Rp1 Juta

Depi Gunawan
22/7/2016 08:30
Simina Banjir, Alat Deteksi Dini Bermodal Rp1 Juta
(MI/Depi Gunawan)

ASEP Muhamady Anwar Salim, 16, dan Muchammad Alfarisi, 17, namanya. Dua siswa SMK Negeri 2 Kota Cimahi, Jawa Barat, itu telah mengharumkan nama Indonesia dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Harbin, Tiongkok, 15 - 20 Juli 2016 lalu.

Keduanya berhasil menyabet dua penghargaan sekaligus berupa Special Award dari Singapura dan Special Award dari Thailand.

Dalam ajang tahunan yang diikuti 83 tim dari 10 negara tersebut, Asep dan Alfarisi menampilkan alat deteksi sistem informasi peringatan dini bencana banjir yang memanfaatkan sinar matahari dan telepon pintar (smartphone).

"Kami namai Sistem Mitigasi Bencana Banjir atau Simina Banjir," kata Alfarisi, saat ditemui di sekolahnya di Jalan Kamarung, kemarin (Kamis, 21/7).

Proses pembuatan Simina Banjir tidak terlalu rumit dan hanya menghabiskan biaya sekitar Rp1 juta. Sensor ini mendeteksi keadaan lingkungan dalam hal ini berupa level.

Data dari sensor ini diolah dengan alat yang dinamakan mikrokontroler, kemudian akan keluar data yang diolah jadi lima skala, antara lain normal, waspada, siaga, awas, dan banjir.

"Jika level keadaan siaga, awas, atau banjir, sistem secara otomatis mengirim pesan secara massal ke seluruh nomor yang tersimpan di memori mikrokontroler," ungkapnya.

Jika mencapai level awas, lanjut dia, alarm akan berbunyi dan alat akan mengirim SMS ke nomor tertentu seperti petugas berwenang. "Alat ini bisa memantau ketinggian air sungai dan membantu prediksi kemungkinan luapan air bagi petugas untuk mengurangi korban dampak banjir," lanjutnya.

Asep dan Alfarisi berencana membuat Simina Banjir lebih sederhana lagi agar bisa diproduksi massal demi membantu dalam deteksi dini kebencanaan lingkungan khususnya di daerah bencana banjir.

"Kita akan buat alat lebih sederhana lagi di bawah Rp1 juta agar nanti bisa diproduksi dan dipasarkan untuk bantu penanganan banjir di negara kita."

Mereka bukannya tanpa hambatan dalam menciptakan alat itu hingga akhirnya mendapat prestasi cemerlang di level Asia. Pihak panitia rupanya hanya menanggung ongkos keberangkatan untuk satu orang

"Hanya Asep yang diberi ongkos sama panitia, saya enggak. Pihak sekolah akhirnya menambah ongkos keberangkatan kita," kata Alfarisi.

Kendala bahasa sempat membuatnya gundah saat mempresentasikan Simina Banjir ke para juri yang mendatangi meja peserta. "Untungnya Anwar sudah fasih berbahasa Inggris. Kalau saya tidak terlalu bisa," ucapnya lagi.

Kusman Subarja, salah seorang guru pembimbing mereka, mengaku bangga dengan prestasi yang dicapai anak didiknya itu. Pihak sekolah berencana mengajukan hak paten ke LIPI untuk melindungi inovasi sang murid.(N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya