AGUS Muharam mungkin merupakan satu di antara sekitar 300 ribu warga Kota Sukabumi, Jawa Barat, yang harus berjuang gigih untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi guru di sekolah luar biasa (SLB).
Dengan segala keterbatasan fisik, pemuda penyandang disabilitas (tunanetra) berusia 25 tahun itu harus putar otak untuk mencari biaya agar bisa menyelesaikan pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung.
Sayang, saat ini keinginannya itu terhambat. Warga Gang Samsi, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi itu kelimpungan mencari biaya kuliah yang tinggal beberapa semester lagi.
Sejak lahir, Agus sudah ditakdirkan tak bisa melihat. Ayahnya meninggal saat Agus masih dalam kandungan. Ibunya pun meninggal ketika usia Agus menginjak delapan tahun.
Hidup Agus terlunta-lunta sejak orangtuanya meninggal. Anak semata wayang itu seakan akan tak diakui oleh keluarga almarhum ayah maupun keluarga almarhumah ibunya.
Akhirnya Agus hidup di panti asuhan. Dia pun mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA di salah satu SLB di kawasan Cikondang. Untuk mencari tambahan penghasilan, Agus menjadi tukang pijat tradisional. Pelanggannya bukan hanya masyarakat umum saja. Kalangan pejabat pun sering memanfaatkan keahlian memijat Agus. Satu di antaranya mantan Wakil Wali Kota Sukabumi, Mulyono.
Uang hasil memijat, dia tabung. Termasuk uang honorarium mengajar di SLB.
Prestasi akademis Agus cukup menonjol. Dia diterima sebagai mahasiswa di Uninus Bandung. Karena cita-cita mulianya ingin menjadi guru di SLB, Agus mengambil jurusan PLB.
Di sela-sela kuliah, Agus memanfaatkan keahliannya untuk memijat rekan maupun dosen. "Uangnya saya pakai untuk biaya sehari-hari saat kuliah. Dalam satu minggu, saya kuliah tiga kali. Biasanya saya tidur dan istirahat di masjid," kata Agus.
Berbagai upaya sudah dilakukannya agar bisa membayar biaya kuliah, termasuk meminta bantuan ke Pemkot Sukabumi. Namun, hingga kini belum ada tanggapan. Biaya yang dibutuhkan Agus untuk menuntaskan kuliah diperkirakan Rp10 juta. "Mencari beasiswa juga sangat sulit," tuturnya.
Tokoh masyarakat Kota Sukabumi sekaligus alumni Uninus KH Fajar Laksana mengaku prihatin. Padahal, banyak peluang yang bisa diperoleh untuk mendapatkan beasiswa. Apalagi, Agus yang merupakan penyandang disabilitas memiliki prestasi menonjol di bidang akademis.
"Di setiap perguruan tinggi itu pasti sudah punya alokasi beasiswa. Mestinya mahasiswa berprestasi seperti Agus ini dibantu semaksimal mungkin," tegas Fajar yang memberikan santunan Rp2,5 juta dan digunakan Agus untuk keperluan kuliah kerja nyata (KKN).(N-2)