Kemarau Basah, Warga Sleman Diminta Waspada DBD

Agus Utantoro
21/7/2016 09:15
Kemarau Basah, Warga Sleman Diminta Waspada DBD
(Ilustrasi)

MASYARAKAT Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diminta tetap menjaga kebersihan lingkungan termasuk selalu melakukan pemberantasan sarang nyamuk untuk mencegah mewabahnya demam berdarah dengue (DBD). Terlebih, kali ini, akan menghadapi musim kemarau basah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini menjelaskan musim kemarau basah akan berdampak pada jumlah penderita DBD yang tinggi.

"Kemarau basah yang terjadi saat ini membuat kasus DBD masih terus ada. Sepanjang tahun memang ada, tapi kalau musim kemarau normal biasanya angka penderita turun," kata Mafilindati, Rabu (20/7).

Dari data yang masuk hingga Senin (18/7), jelasnya, jumlah penderita DBD di Sleman 525 orang selama 2016, tujuh di antara mereka meninggal dunia. Pada Juli, baru terdata dua penderita, sedangkan Juni 46 orang, serta Mei 58 orang.

"Kami terus melakukan monitoring kasus DBD yang terjadi di masyarakat, karena masih seringnya turun hujan pada musim kemarau ini cukup rawan untuk perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD," katanya.

Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kepedulian di lingkungan sekitarnya, terhadap potensi tempat berkembangnya nyamuk Aedes Aygepti.

Mafilindati mengatakan kepedulian masyarakat tersebut lebih diutamakan yang berada di pemukiman padat, sebab perkembangan nyamuk berpotensi lebih besar terjadi di wilayah-wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi.

"Seperti di wilayah Kecamatan Mlati, Depok, kemudian Gamping. Selain dari yang banyak manusianya, juga berdasar letak geografisnya," katanya.

Ia mengatakan daerah yang mempunyai ketinggian permukaan laut yang tinggi, lebih minim terhadap ancaman serangan DBD.

"Seperti di wilayah Kecamatan Turi, Pakem, serta Cangkringan. Kasus di Cangkringan selama ini pun sangat minim, kecuali ketika masyarakat di sana saat baru menghuni hunian tetap korban erupsi Gunung Merapi," katanya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mengharapkan masyarakat mewaspadai peningkatan penderita penyakit demam berdarah dengue saat cuaca kemarau basah seperti saat ini.

"Jumlah kasus DBD sudah mulai menurun namun masih belum dalam jumlah aman," kata Sekretaris Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty.

Jumlah penderita DBD di Gunungkidul sudah tercatat sebanyak 132 orang pada Januari 2016, Februari sebanyak 141 kasus dengan satu warga meninggal, Maret sebanyak 119 kasus, dan April sebanyak lima kasus dengan satu warga meninggal. Jumlah kasus kemudian menurun pada Mei yaitu 85 kasus dan Juni tercatat 60 kasus.

Dewi mengatakan penurunan itu karena para juru pantau jentik sudah bekerja secara maksimal, sehingga mengurangi penyebaran nyamuk aedes aegypti. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya