Tak Minder lagi punya Anak dengan Disabilitas

(Tosiani/N-4)
21/7/2016 03:40
Tak Minder lagi punya Anak dengan Disabilitas
(ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)

TEPUK tangan dan sorak-sorai pecah. Pandangan mata mereka sontak tertuju pada sejumlah anak yang berbaris rapi di lapangan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (19/7) pagi. Di tengah lapangan itu, anak-anak penyandang disabilitas kategori rendah intelektual itu memperagakan tari tradisional Topeng Ireng, diringi musik dangdut. Sesekali gerakan mereka terlihat tidak kompak. Bahkan, ada yang bergerak tak seirama musik. Namun, anak-anak istimewa itu tetap bersemangat dan terus menari. Selain pentas Topeng Ireng, ada pula siswa yang menampilkan tari Gambyong dan drum band. Pentas kesenian itu dilakukan dalam rangka menyabut tahun ajaran baru di hari pertama masuk sekolah. Berbeda dari sekolah pada umumnya, tahun ajaran baru di BBRSBG dimulai seusai libur Lebaran, dan musim liburan hanya satu kali, yakni di akhir puasa hingga seusai Lebaran.

Kepala BBRSBG Kartini, Murhardjani, menegaskan kehadiran orangtua di hari pertama masuk sekolah sangat berarti. "Anak-anak sudah tinggal di sini lama, ada yang bertahun-tahun, tapi orangtua juga jangan menyerahkan sepenuhnya. Harus ada partisipasi, perhatian, dan dukungan orangtua agar anak merasa dicintai dan dihargai sehingga anak bisa merasa berharga dan timbul kepercayaan diri," ujar Murhardjani. Tercatat ada 150 orangtua penghuni BBRSBG diundang, Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Kalimantan, Jateng, Jatim, dan Jabar. Kepada para orangtua, jelas Murhardjani, BBRSBG membekali bantuan uang transpor sebesar Rp75 ribu-Rp160 ribu untuk wilayah Temanggung dan Rp350 ribu-Rp750 ribu bagi yang dari luar Jawa.

Di panti ini, anak hanya bisa menetap hingga 3 tahun. Setelah itu, anak-anak akan disalurkan bekerja dan diberi bantuan usaha untuk mereka yang menyandang kategori 'debil' atau ber-IQ 70-50 dan 'embisil ringan' untuk yang ber-IQ 50-40. Bagi anak-anak berkategori 'embisil berat' atau ber-IQ di bawah 40, karena sangat sulit, mereka hanya dikembalikan kepada keluarga setelah dibekali cara hidup mandiri, atau mininal sudah bisa mengurus diri sendiri. Berkat konseling dengan pembimbing dan psikolog BBRSBG juga, Wahyu Haryati, 44, warga Ungaran, Kabupaten Semarang, mengaku anaknya, Oktavirianto, 20, mengalami perkembangan pesat. Setelah enam bulan belajar di panti ini, putranya yang mengalami tunagrahita kategori B atau 'embisil ringan' sudah banyak kemajuan. "Tiga bulan pertama saat anak saya pulang, ia menjadi lebih mandiri. Ia tahu waktunya mandi, makan, tidur, dan mencuci piring bekas makan. Saya tak minder lagi punya anak penyandang disabilitas," tutur Wahyu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya