Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kabupaten Lembata, NTT meluncurkan program ketangguhan Pulau. Peluncuran program yang dikerjakan selama 18 bulan oleh Plan Internasional bekerjasama dengan NGO Lokal YBS, memilih fokus pada pengurangan resiko bencana, adaptasi perubahan iklim dan sekolah aman berbasis pada anak.
Peluncuran program Ketangguhan Pulau (Resilient Island), dilakukan Staf Ahli Bupati Lembata, Pascal Tapobali di hotel Palm, Lewoleba, Rabu (20/7/2016).
Pascal Tapobali yang membacakan sambutan Bupati Lembata, menyebutkan, bencana tsunami Lomblen pada 1979 yang menelan 500 korban jiwa, 300 lainnya dinyatakan hilang, menjadi bukti kerentanan pulau Lembata terhadap ancaman bencana. Program ketangguhan pulau adalah kebutuhan yang mendesak untuk dilaksanakan.
"Launching program ketangguhan pulau ini sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap program penting yang dilaksanakan Plan Internasional di Lembata. Program Ketangguhan Pulau ini sangat baik untuk membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat dan semua stakeholder terkait, tentang ancaman bencana dan bagaimana menghadapi bencana sehingga bisa meminimalkan resiko yang terjadi akibat bencana," ujar Pascal Tapobali.
Muhammad Thamrin, Project Manager Resilient Island, mengatakan, Plan International Indonesia Program Area Lembata bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Jerman, menginisiasi program ketangguhan Pulau yang akan di implmentasikan di Kabupaten Lembata dan Kabupaten Nagekeo. Projek ini mencakup 9 Kecamatan dan 151 Desa dengan jumlah penduduk 129.482 terdiri dari 60.679 jiwa laki-laki dan 68.803 jiwa perempuan.
Program Ketangguhan Pulau (Resilient Island) berfokus pada upaya mengurangi risiko bencana dan iklim di wilayah pesisir di Pulau Flores. Proyek ini menyasar masyarakat, sekolah-sekolah, dan terutama proyek ini menjadikan anak sebagai sasaran subyek program. Proyek yang berdurasi 18 bulan (Mei 2016-Oktober 2017) ini akan diselenggarakan di Kabupaten Lembata dan Nagekeo.
"Di Lembata, proyek ini akan mendampingi 5 Kecamatan (Ile Ape, Ile Ape Timur, Lebatukan, Omesuri dan Buyasuri), di 10 desa sebagai desa pilot yaitu Jontona, Lamawolo, Lamagute, Napasabok, Amakaka, Hadakewa, Wailolong, Mampir, Lewohung, dan Bareng," kata Muhammad Thamrin.
Selain itu, Plan Internasional juga akan menjadikan 10 Sekolah di 5 Kecamatan tersebut sebagai sekolah contoh yakni MIS Lewohung, SDI Tokojaeng, SDI Mulewaq, SDK Baopukang, SDI Bareng, SMP Swasta Ile Lewotolok, SDI Wailolong, SMP Swasta Sinar Swasembada, SDK Atawatung, dan SDK Mawa, lanjutnya.
Dalam pelaksanaan program ini, Plan International Indonesia menggandeng LSM lokal di Lembata yakni Yayasan Bina Sejahtera (YBS). Tujuan umum proyek ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan sekolah, masyarakat, dan pihak pemangku kepentingan dengan memadukan prinsip-prinsip dan nilai-nilai penting seperti perlindungan anak, gender, dan inklusi disabilitas.
"Kami berharap, kami dapat membangun Komitment bersama Pemerintah baik di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa untuk menyukseskan program ketangguhan pulau (Resilient Island) di Lembata ini," ujar Erlina Dangu, Deputy Program Area Manager Plan Internasional Area Lembata. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved