Masalah Air Menjadi Pangkal Persoalan NTT

MI/PALCE AMALO
26/7/2015 00:00
Masalah Air Menjadi Pangkal Persoalan NTT
(Antara/Kornelis Kaha)
PEMERINTAH akan fokus pada pemenuhan kebutuhan air di Nusa Tenggara Timur (NTT) agar setiap musim kemarau tidak dilanda kekeringan dan krisis rawan pangan.

Kebutuhan air ini akan dipenuhi melalui pembangunan infrastruktur bendungan, embung, dan sumur bor. Penegasan itu disampaikan Presiden Joko Widodo saat meninjau pembangunan Bendungan Raknamo di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, NTT, kemarin.

Menurutnya, permasalahan utama di daerah saat ini ialah ketersediaan air. Khusus di NTT, air merupakan masalah besar. "Dengan kondisi lapangan yang tandus dan kering, kalau tidak ada air, sampai kapan pun masalah di sini tidak akan selesai," ujar Jokowi.

Rakmano merupakan satu dari tujuh bendungan raksasa yang dibangun di sejumlah daerah di NTT dan dijadwalkan rampung selama tiga tahun.

Setelah air tersedia dan cukup untuk kebutuhan masyarakat, lanjut Jokowi, barulah berbicara mau menanam tanaman pangan apa untuk wilayah itu. "Kalau kita bicara-bicara, tetapi fondasinya tidak dilakukan, tidak bisa," tegasnya.

Bendungan Rakmano yang dibangun sejak Desember 2014 sampai Juli tahun ini telah mencapai 16%. Rencananya bendungan selesai pada 2017 atau lebih cepat dua tahun dari rencana semula pada 2019.

Selain bendungan, saat ini sebanyak 100 embung telah selesai dibangun di wilayah NTT, dan pembangunan seribu sumur di Kabupaten Timor Tengah Selatan untuk mengatasi krisis air. "Jadi ada 230 sumur yang sudah selesai dibangun," tambah Jokowi.

Bendungan Rakmano akan menampung air sebesar 14,09 juta meter kubik dan pasokan air baku ke masyarakat 100 liter per detik. Areal persawahan yang akan diairi dari bendungan mencapai 1.250 hektare di empat desa, yakni Raknamo, Manusak, Naibonat, dan Amabi Oefeto. Selain untuk pengairan, air bendungan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik mikro hidro 0,216 megawatt.

Suntikan dana
Sebelum berkunjung ke Bendungan Rakmano, Presiden berkunjung ke Pabrik Semen Kupang di Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Dalam kunjungan ke pabrik semen, Presiden memberikan suntikan dana sebesar Rp2 triliun untuk Semen Kupang agar mampu meningkatkan produksi semen menjadi 1,5 juta ton per tahun.

Saat ini kapasitas produksi Semen Kupang I dan Kupang II sebesar 100 ribu ton per bulan atau 400 ribu ton per tahun. Produksi sebesar itu belum mencukupi permintaan pasar sehingga NTT masih membutuhkan pasokan semen dari luar daerah. Hampir seluruh bahan baku semen ada di Kupang, kecuali gipsum dipasok dari Gresik, Jawa Timur. Ada pun pasir besi dan bahan baku lainnya berasal dari NTT. Setelah kapasitas pabrik ditingkatkan, Presiden optimistis kebutuhan semen di daerah bisa terpenuhi dan dapat diekspor ke Timor Leste.

Menteri Perindustrian Saleh Husin yang mendampingi Presiden mengatakan pihaknya telah mengalokasikan dana Rp12 miliar untuk studi kelayakan rencana pengembangan pabrik Semen Kupang III.

Pabrik Semen Kupang I dan II pernah kolaps 3,5 tahun pada Maret 2008. PT Sarana Agra Gemilang mengambil alih dan kembali berproduksi pada Agustus 2011. (N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya