TKI Tewas, Keluarga Lapor ke DPRD

MI
20/7/2016 09:55
TKI Tewas, Keluarga Lapor ke DPRD
(Ilustrasi)

YUFRINDA Selan, TKI asal Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, yang tewas di Malaysia, diduga mengalami penyiksaan. Keluarga korban melaporkan adanya sejumlah luka di rusuk, ta-ngan kanan dan kiri korban, serta banyak jahitan.

"Di tangan kanan ada memar bekas tercabik, di rusuk kanan bila ditekan terasa lembek, dan di tangan kiri ada bekas luka ikatan kawat," ungkap Metusalak Selan, ayah kandung Yufrinda, kepada sejumlah anggota Komisi V DPRD NTT, kemarin (Selasa, 19/7).

Kondisi jenazah Yufrinda diketahui lewat pemeriksaan dokter dan polisi. "Melihat kondisi jenazah anak saya, saya yakin dia mengalami penganiayaan berat sebelum meninggal," lanjutnya.

Jenazah Yufrinda diberangkatkan dari Kuala Lumpur, Rabu (13/7), dengan pesawat Garuda Indonesia ke Jakarta. Selanjutnya, jasad korban dibawa ke Kupang, Kamis (14/7), untuk dimakamkan di kampung halaman di Desa Tupan, Kecamatan Batu Putih.

Yufrinda diduga menjadi korban perdagangan manusia. Dia diberangkatkan ke Malaysia dengan identitas palsu, mulai nama yang berubah menjadi Melinda Sapay, akta kelahiran, KTP, alamat, usia, hingga agama.

Ketua Komisi V DPRD NTT Winston Rondo menyatakan penyiksaan yang menimpa Yufrinda ialah kejahatan kemanusiaan. "Kami mendesak Kapolda NTT mengusut kasus itu hingga tuntas dan memublikasikan seluas-luasnya kepada publik."Sebelumnya, dua TKI asal NTT, Dolfina Abuk dan Yuliana Kana, juga dipulangkan ke Tanah Air dalam kondisi tak bernyawa. Ketiganya diduga disiksa dan dibunuh di tempat kerja di Malaysia.

Dari Sulawesi Tengah, petugas menggagalkan upaya pe-ngiriman 20 calon TKI secara ilegal dari Bandara Mutiara Sis Aldjufri Palu. Mereka hendak diberangkatkan ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Lion Air. Ke-20 TKI itu berasal dari Kabupaten Parigi Moutong dan Sigi. Kepada petugas mereka mengaku tidak melapor ke dinas tenga kerja daerah.

Mereka direkrut perusahaan pengerah jasa TKI PT Data Graha Utama. Para perempuan itu akan dikirim ke Brunei Darussalam dan Arab Saudi sebagai penatalaksana rumah tangga. "Kami mendapat informasi dari petugas intelijen Polda Sulawesi Tengah bahwa ada 20 calon TKI yang akan diberangkatkan secara ilegal. Kami juga menangkap 2 perekrut," kata Muhammad Zulkarnain, petugas Bandara Mutiara.

Untuk mengelabui petugas, para calon TKI itu melakukan check in secara terpisah, dengan waktu yang berjauhan. Mereka baru bertemu dan berkumpul di ruang tunggu bandara.

"Untuk proses hukum, kami masih menelusuri pimpinan PT Data. Para calon TKI dan dua perekrutnya masih kami periksa intensif di polda," papar Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah AKB Hari Suprapto.(PO/TB/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya