Berakhir Sudah Sepak Terjang Abu Wardah

M Taufan SP
19/7/2016 23:38
Berakhir Sudah Sepak Terjang Abu Wardah
(AP Photo/Faiz Sengka)

SANTOSO alias Abu Wardah merupakan pimpinan kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berkembang pesat di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, kurun waktu lima tahun terakhir. Kelompok itu telah terafiliasi dengan Islamic State.

Nama Santoso dikenal sejak Maret 2010 hingga begitu mencuat Mei 2011. Di mana kala itu merupakan kali pertama kelompok Santoso melakukan operasi teror. Target pertama mereka adalah sebuah bank di Palu.

Saat itu, Santoso sudah mengumpulkan 20 orang pascapulang dari pelatihan di kamp Aceh yang dipimpin Abu Tholut yang tidak lain adalah
kaki tangan dari Abu Bakar Ba'asyir. Walaupun sudah mendapatkan uang dari hasil rampokan Santoso merasa butuh lebih banyak orang.

Setelah perempokan terhadap bank yang menewaskan dua polisi yang berjaga saat itu, Santoso memutuskan untuk menyerang sebuah Polsek
di Palu pada Mei 2011, dan berhasil membobol beberapa sel untuk mendapatkan rekrutan baru.

Dalam mendanai operasional kelompok Santoso, mereka juga terlibat dalam pencurian motor. Santoso melakukan ini selain untuk operasional juga karena untuk membiayai hidup janda para pelaku yang tewas dalam operasi sebelumnya.

Santoso tidak hanya beroperasi untuk kelompoknya sendiri, namun juga bekerja sama dengan kelompok lain, semisal kelompok Abu Umar di Kalimantan Timur dengan bekerja sama dengan kelompok Abu Umar, Santoso membuka hubungan dengan Moro Islamic Liberation Front, dan Santoso menggunakan hubungan tersebut untuk membuka kamp di Kalimantan dan Poso, serta mendapatkan senjata beserta amunisinya.

Santoso dan kelompoknya kemudian berbaiat setia kepada IS. Dari serangkaian aksi mulai dari penembakan polisi, peledakan bom, hingga pembunuhan terhadap warga sipil yang dilakukan Santoso hingga membuat namanya gempar di Poso, Polri kemudian menggelar Operasi Camar Maleo I, II, III hingga IV.

Karena pergerakan dari MIT yang begitu kencang, pemerintahmelanjutkan operasi dengan sandi Tinombala 2016 yang melibatkan 3.000 lebih personel gabungan TNI dan Polri.

Bukan hanya ditangkap mati melainkan satuan tugas juga menangkap pengikut MIT lainnya hidup-hidup, termasuk berhasil menewaskan Santoso yang merupakan DPO kasus terorisme nomor satu di Indonesia.

Santoso kini telah dilumpuhkan. Namun, tugas belum berakhir. Masih ada pengikut Santoso yang masih bersembunyi di kawasan hutan di Poso. Dan itu bukan tugas yang mudah untuk diselesaikan. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya