Sektor Daya Harus Tekan Polusi Udara

JESSICA SIHITE
20/7/2016 04:40
Sektor Daya Harus Tekan Polusi Udara
(MI/SUSANTO)

PEMBANGUNAN sektor energi nasional mesti dilakukan dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Pasalnya, tidak jarang penggunaan energi berdampak pada peningkatan polusi udara, seperti penggunaan bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan bermotor. ”Dengan populasi yang besar, artinya pasar dan produksi energi juga besar. Reformasi energi bisa dilakukan dengan pemotongan subsidi energi, efi siensi energi, dan mendorong pembangunan energi baru dan terbarukan (EBT). Saya rasa sudah mulai dilakukan
Indonesia,” ucap Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Barol dalam World Energy Outlook 2016 di Jakarta, Sealsa (19/7).

Menurutnya, 6,5 juta penduduk dunia meninggal karena polusi udara per tahunnya. Mayoritas dari jumah tersebut berada di Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri, dalam catatannya, sekitar 200 ribu jiwa yang meninggal per tahun. “Karena itu, IEA meminta anggota mereformasi sektor energi supaya dampaknya bisa diminimalkan,” ujar Fatih. Di kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan pihaknya bakal mengurangi porsi energi fosil dalam rencana umum energi nasional (RUEN). Rencananya, pada 2025, porsi energi batu bara bakal dipangkas menjadi maksimal 50%. “Kita dorong pengurangan pengunaan batu bara untuk pembangkit listrik, maksimal 50% dan akan diganti gas dan EBT, khususnya di Jawa,” tuturnya. Investor sektor energi pun, imbuhnya, mesti mengupayakan pengurangan polusi udara dalam membangun teknologi mereka di Indonesia. “Mungkin investor akan merespons kalau rencana ini akan menambah beban, tetapi harus tetap dilakukan. Pelaku bisnis juga pada akhirnya akan melihat keberlanjutan, tidak sekadar mengejar return,” imbuh Sudirman.

Nuklir libatkan swasta
Di kesempatan yang sama, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sujatmiko menandaskan energi nuklir masuk RUEN sebagai bagian dari komposisi energi baru dan terbarukan (EBT) yang ditargetkan mencapai 23% pada 2025. “Saat ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tengah menyiapkan reaktor daya eksperimental untuk ancang-ancang pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN),” ucap Sujatmiko kepada Media Indonesia. Menurutnya, jika pada saatnya kebutuhan listrik nasional semakin besar dan perlu sumber energi baru, nuklir akan mulai dikembangkan secara komersial. “Kebutuhan itu memang dinamis, tapi dalam jangka panjang pasti harus disiapkan. Jadi nuklir ini kita siapkan dulu dari jauh-jauh hari, teknologinya, energinya, sampai masyarakatnya kita siapkan dulu. Bila nasional membutuhkan, baru kita kembangkan PLTN,” terangnya.

Sujatmiko pun tidak menampik bahwa swasta bisa masuk ke pengembangan PLTN. Pelibatan swasta akan dimasukkan peta jalan nuklir yang tengah dibuat pemerintah dan dikoordinasikan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Peta jalan tersebut merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo, yang meminta sektor nuklir dipertimbangkan sebagai salah satu sumber energi nasional. “Pelibatan swasta akan sesuai peta jalan yang sekarang sedang kita buat. Target selesainya secepat kita bisa,” tandasnya. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya