Trauma Hasilkan Tekad Raih Harmoni dan Kesejahteraan

Putri Rosmalia Octaviyani
18/7/2016 09:48
Trauma Hasilkan Tekad Raih Harmoni dan Kesejahteraan
(ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

HEBATNYA kebakaran hutan dan lahan pada 2015 menyisakan pengalaman pahit bagi banyak warga di Sumatera. Salah satunya di kawasan Siak, Riau. Keinginan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dan bersabahat dengan alam secara perlahan dan signifikan mulai berusaha dijalankan.

"Saya pulang kampung ke Medan 4 bulan waktu kebakaran besar tahun lalu. Sudah tidak tahu lagi apa yang mau dikerjakan waktu itu, sudah putus asa," ungkap Jumiin, lelaki berusia 66 tahun yang telah menetap di Desa Muara Bungkal, Siak, Riau sejak 4 tahun belakangan.

Jumiin seperti mayoritas warga lain di kawasan hutan dan lahan Riau awalnya sangat bergantung pada perkebunan. Kelapa sawit menjadi komoditas utama untuk menopang biaya hidup. Tanpa banyak perubahan berarti dan dengan keterbatasan perkebunan sawit dan karet masih terus menjadi andalan.

"Sejak lama sebagian warga memang mengandalkan sawit. Tapi kami sadar bahwa selain tidak berdampak baik pada lingkungan, hasil yang kami dapat dari sawit juga tidak seberapa," ungkap Kepala Desa Muara Bungkal, Siak, Asril Amran.

Dijelaskan Asril, bencana kebakaran secara perlahan telah membuat warganya mau berpikir untuk mengelola lahan lewat cara lain. Salah satunya adalah dengan bertani.

Satu persatu warga desa yang berjumlah 218 kepala keluarga mulai beralih mengelola padi dan gabah serta beberapa jenis tumbuhan hortikultura.

"Hanya selama ini kami mengalami beberapa kendala dalam banyak hal. Mulai bibit hingga ketaktahuan dalam melakukan penanaman," ujar Asril.

Berbagai hal terus diupayakan warga untuk mencapai perubahan tersebut. Salah satunya melalui keikutsertaan dalam kelompok Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Berbagai bantuan pelatihan pengembangan lahan pertanian, perkebunan hortikuktura, pemberdayaan ekonomi, hingga langkah-langkah antisipasi dan penanggulangan karhutla menjadi hal yang didapat dari keikutsertaan program yang dibentuk Sinarmas tersebut.

"Saat ini memang belum bisa dihitung keuntungannya dari segi materi dari kami. Karena baru saja dimulai sejak akhir 2015 program ini. Tapi kami optimis hasilnya akan baik dan selalu berusaha agar jumlah warga yang mau bergabung terus bertambah. Saat ini baru ada 29 orang," tutur Asril.

Hal yang sama juga dirasakan Suryono, warga desa Pinang Sebatang Barat tersebut awalnya memiliki satu hektare lahan sawit dan dan beberapa buah. Namun, selepas peristiwa kebakaran dirinya telah mengubah seluruh lahannya menjadi berbagai jenis tanaman sayur dan buah.

"Selama ini kendala utamanya air. Melalui DMPA kami mendapat bantuan waduk dan saluran air," ungkap pria berusia 40 tahun tersebut.

Sama dengan Asril, Suryono juga mengaku terus berusaha menyebarkan semangat yang sama terhadap warga lain di desanya. Tidak hanya demi keselamatan hutan, tetapi juga demi kesejahteraan dari penghasilan yang lebih baik. Hal itu karena dikatakannya, harga buah dan padi bila dikelola dengan benar jauh melebihi harga kelapa sawit yang kerap fluktuatif.

Selain itu, program tersebut juga diharapkan dapat menciptakan keharmonisan bersama dari warga dan perusahaan yang kerap terkenal dengan konfliknya yang berkepanjangan.

"Sudah saatnya bisa berubah. Ini jalan yang menurut saya termasuk terbaik dengan mencoba memanfaatkan lahan dengan lebih baik," tutup Suryono. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya