Setop! Jangan Ada Diskriminasi di NKRI

Furqon Ulya Himawan
16/7/2016 19:18
Setop! Jangan Ada Diskriminasi di NKRI
(Dok.MI)

SEJAK 2008, Indonesia telah megesahkan Undang-Undang tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. UU Nomor 40 Tahun 2008 itu memiliki tujuan yang mulia, yakni menjamin tidak terjadinya konflik dan diskriminasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memiliki keberagaman budaya, agama, ras, dan etnis.

Namun, implementasi di lapangan tidak semulus yang di angan. Tindakan diskriminasi dan rasis masih saja terjadi seperti yang dialami mahasiswa Papua yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka sulit mendapatkan tempat kos, dan mendapat stereotip sebagai pemabuk, bahkan dianggap tukang bikin onar.

"Sampai sekarang kami masih diperlakukan diskriminatif," kata Aris Yeimo, 30, Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Yogyakarta, Sabtu (16/7).

Aris menilai tindakan disrkiminasi yang diberikan kepada Papua karena stereotip yang diberikan kepada warga Papua di Yogyakarta, seperti tukang mabuk, suka bikin keributan, atau bahkan tidak taat peraturan lalu lintas.

Ujung-ujungnya, hal itu menjadi stigma buruk yang terus menempel sehingga warga Papua menerima perlakukan diskriminatif dan ujaran kebencian seperti susah mendapatkan tempat kos dan sebutan rasis seperti wong ireng (orang hitam), rambut keriting, bahkan disebut sebagai anak monyet.

"Padahal, itu hanya kelakuan sebagian orang saja, tidak semua. Namun akhirnya digeneralisir," jelas Aris.

Salah seorang warga Papua yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku susah mendapatkan kos. Awalnya, dia tidak tahu apa penyebabnya, tetapi akhirnya ia menyadari hal itu disebabkan dirinya berasal dari Papua.

"Saya sampai lama tidak mendapatkan tempat kos, selalu ditolak gara-gara tahu kalau saya orang Papua," kata dia yang saat datang ke Yogyakarta karena diterima pada salah satu kampus swasta di Yogyakarta.

Stereotip kepada warga Papua di Yogyakarta berdampak turun-temurun. Selain Befan, hampir semua mahasiswa pernah mengalami hal yang sama di awal mencari tempat kos. Ruben Frasa, 26, mahasiswa semester akhir salah satu kampus swasta di Yogyakarta juga mengaku ditolak gara-gara seorang Papua.

"Saya ditolak gara-gara saya orang Papua," katanya.

Beberapa pemilik tempat kos mengaku melakukan hal itu karena trauma dan takut menghadapi orang Papua. Namun, mereka enggan diwawancarai. Nugroho, salah satu pemilik kos yang mau diwawancara, mengaku enggan menerima kos bagi mahasiwa Papua lantaran suka bikin rebut dan susah kalau ditagih iuran bulanan.

"Dan saya punya pengalaman yang tidak mengenakkan," katanya. Karena alasan itu lah dia enggan berurusan dengan orang Papua karena tidak tertib dalam membayar.

Namun di balik penolakannya itu, Nugroho menilai orang-orang Papua sangat baik. Dia ingin orang-orang Papua yang baik itu memberikan bukti kepada masyarakat agar stereotip kepada Papua bisa hilang.

Memang, kadang ada orang Papua yang mabuk, tetapi tidak semua orang Papua pemabuk. "Warga lokal juga ada yang suka mabuk, kok," kata Cahyo Purnomo Edi, 28.

Warga asli Yogyakarta ini mengaku banyak orang Papua yang baik dan suka menolong, bahkan mahasiswa Papua yang berada di Yogyakarta pernah membantu menyelamatkan sumber mata air di Dusun Sumberan, Candibinangung, Pakem, Sleman.

"Selama seminggu mereka bergotong royong memperbaiki sumber mata air yang sudah rusak," katanya.

Atas kebaikan mereka, warga Sumberan memberikan ucapan terima kasih berupa nama jalan, Jalan Papua dan membuat prasasti berupa batu marmer. "Jadi orang Papua itu baik dan suka gotong royong, jangan salah," tegasnya.

Warga Yogyakarta lainnya, Pedro Indharto, 33, pun mengaku kalau masih banyak orang Papua yang berkelakuan baik, tetapi selama ini opini masyarakat terlanjur melabel Papua jelek.

Menurut Pedro, warga Papua pernah bersama-sama dengan warga Yogyakarta melakukan bersih kampung dan sungai di bantaran Sungai Code. "Warga Papua itu malah ikut reresik Kali Code," katanya.

Akhir Maret kemarin, lanjut Pedro, warga Yogyakarta dan warga Papua saling bahu-membahu melakukan ruwatan Kali Code. Hal itu dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sungai, terlebih air adalah kebutuhan pokok manusia yang harus dilestarikan dan dijaga.

"Jadi warga Papua itu malah peduli lingkungan, warga Yogyakarta harus tahu itu," imbuhnya.

Cahyo dan Pedro membayangkan, warga Yogyakarta bisa hidup rukun dan dan berdampingan, saling menghargai dan tanpa ada perlakuan diskriminasi maupun rasis. Pedro misalnya, dia ingin agar pola komuniaksi terus terjalin. "Kalau ada apa-apa harus dibicarakan," katanya.

Selain komunikasi, proses pembauran juga perlu dilakukan agar terjadi proses pembelajaran budaya, tradisi sehingga tumbuh saling memahami, bukan menghakimi. "Jadi intinya komunikasi dan sama-sama belajar budaya masing-masing, jangan selalu menggeneralisir atau melakukan penghakiman sendiri," kata Pedro.

Setiap tahun ajaran baru bisa dipastikan selalu ada perantau baru dari Papua ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Sampai sekarang, jumlah mereka yang tercatat, menurut Aris, ada 7.000 orang Papua. Aris mengaku selalu mengadakan pengenalan kepada mahasiswa atau pelajar yang baru masuk ke Yogyakarta. Mereka diberi pemahaman sehingga bisa mengerti dan berbaur dengan masyakat Yogyakarta.

Terlebih, sebenarnya orang Papua sangat menghargai betul perbedaan dan bisa hidup berdampingan dengan siapa saja. "Di Papua itu semua hidup rukun berdampingan, antara Papua dan luar Papua, tapi mengapa di sini malah terjadi diskriminasi," katanya.

Setelah saling mengenal dan memahami, maka tidak ada lagi prasangka buruk di antara keduanya. Pengelola kos-kosan pun mau membuka diri dan menerima orang Papua. "Papua itu orangnya baik, tapi buktikan itu sehingga masyarakat bisa percaya lagi," kata Nugroho.

Yah, sebagai warga Indonesia harus saling menghargai, jangan lagi ada diskriminasi di NKRI, "Setop sudah itu diskriminasi, mari tunjukkan bahwa kita semua bersaudara," kata Pedro. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya