Rumah Cinta bagi Anak-Anak Pejuang Kanker

(Budi Mulia/N-1)
15/7/2016 02:50
Rumah Cinta bagi Anak-Anak Pejuang Kanker
(MI/BUDI MULIA)

DI tembok sebuah rumah yang terletak di Jalan Bijaksana Dalam Nomor 11, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, tertempel papan bertuliskan 'Rumah Cinta'.
Sejak 2012, rumah itu dikontrak oleh pasangan Supendi Wijaya, 42, atau Abah Lutung dan istrinya, Dewi Nurjana, 40, atau yang biasa disapa Ambu Lutung. Kini, mereka menyewa rumah itu seharga Rp50 juta per tahun. Rumah itu juga diramaikan dengan puluhan anak. Bukan anak biasa, melainkan pejuang. Mereka ialah anak-anak yang berjuang melawan kanker. "Pada 2011, saya mengalami hal yang sama dengan para orang tua dan anak-anak yang sekarang tinggal di Rumah Cinta," ujar Ambu saat ditemui Media Indonesia, Kamis (14/7). Dengan mata berkaca-kaca, Ambu menerawang kembali ingatannya. Putra Ambu dan Abah, Muhammad Rizky Ramadhan, 2,5, telah meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker mata atau inoblastoma.

Saat itu, sang putra menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Selama 2,5 tahun sejak 2011, Ambu dan Abah harus berjuang karena saat itu belum ada layanan kesehatan BPJS. Baru lima bulan menjelang Muhammad Rizky Ramadhan wafat, mereka baru bisa dibantu oleh negara dengan BPJS. Walhasil, pasangan suami istri itu menjual seluruh harta, termasuk rumah mereka di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat.

Mereka pun menempati sebuah kamar kontrakan di kawasan Cibarengkok, Bandung, yang tidak jauh dari RSHS. "Kami tahu ada rumah singgah Sedekah Rombongan, tapi rumah singgahnya kan untuk berbagai usia dan penyakit. Anak-anak bisa takut kalau melihat berbagai penyakit orang tua. Akhirnya, Abah membuat Rumah Cinta. Rumah Cinta khusus anak-anak pengidap kanker yang harus terapi ke rumah sakit di Bandung," tutur Ambu.

Rumah Cinta memang rumah singgah bagi anak penderita kanker maupun pendamping secara gratis. Menurut Ambu, Rumah Cinta masih bisa berjalan menolong pejuang kanker, murni karena pertolongan Yang Mahakuasa sehingga mereka tidak pernah mengemis meminta bantuan kepada donatur. "Yang perlu dicatat, di Rumah Cinta tidak ada perbedaan suku, ras, ataupun agama. Semua yang membutuhkan bantuan Rumah Cinta, kami akan menerima dengan tangan terbuka," ujar Ambu.

Hingga kini, sudah sekitar 1.500 anak pernah menghuni Rumah Cinta. Seperti Warinah, 45, asal Subang, Jabar, yang mendampingi putranya, Azhjamil Hasan, 4, selama 3 tahun bolak-balik ke Rumah Cinta karena menjalani perawatan kanker darah atau leukemia.

Menurut Warinah, putranya yang kerap disapa Jamil betah untuk singgah ke Rumah Cinta. Apalagi, Abah dan Ambu sama sekali tidak memungut bea sehingga mereka bisa menyisihkan uang untuk proses pengobatan. "Dalam waktu dekat, Jamil akan menjalani kemoterapi yang terakhir menuju kesembuhan," kata Warinah.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya