BAGI H Komarudin, 45, pedagang telur asin di pinggir jalur pantai utara (pantura) Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasai, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Lebaran tahun ini tidak sesemringah tahun-tahun sebelumnya. 'Panen raya' yang dia impikan tak jadi realitas.
Bagi dia, Lebaran ialah saat-saat yang ditunggu. Dari tradisi tahunan bertajuk pulang kampung, ia bisa memanfaatkan arus mudik dan arus balik untuk memanen rezeki. Namun, peluang manis itu kini berubah menjadi asin. Penyebabnya tidak lain karena dioperasikannya tol darurat Pejagan-Brebes.
Akibat tol darurat itu, arus kendaraan baik saat mudik maupun balik yang biasanya melalui jalur pantura di depan tokonya, Telor Asin HTM Jaya, di Kecamatan Losari menurun drastis. Mayoritas pengendara memilih melintas di tol darurat Pejagan-Brebes untuk menghindari kemecetan. Pembeli telur asin untuk oleh-oleh pun menurun signifikan.
"Bukan hanya saya, para pedagang telur asin lainnya di jalur pantura, khususnya Brebes Kota juga mengeluh. Omzet turun drastis, Mas," ungkap Komarudin, kemarin.
Hal yang sama dialami Drajat, 45, pedagang telur asin di pinggiran jalur pantura Desa Klampok, juga masih wilayah Kecamatan Losari. Meski ia menggelar dagangan di sebelah kiri jalan dari arah timur yang berarti banyak dilalui kendaraan arus balik, toh kenyataannya sama saja.
"Dari pagi sepi, Mas. Paling ada satu dua pemudik yang mampir membeli telur, mereka yang tidak melalui Tol Pejagan-Brebes," ujar Drajat.
Ia berkisah, kalau pada musim Lebaran tahun lalu biasanya sehari bisa menjual 1.000 butir, sekarang paling banyak 400 butir. Kalau satu butir telur dijual dengan harga Rp3.500, omzetnya sehari kini paling Rp1,4 juta.
Komarudin maupun Drajat berharap pada arus balik yang tinggal hitungan hari masih ada pemudik yang mampir untuk membeli telur yang mereka jajakan. "Kalau toko-toko di dalam kota sih mendingan. Di sana masih banyak pemudik yang berhenti membeli telur. Kita ini yang di luar Brebes Kota yang sepi," tutur Drajat.
Perubahan memang selalu membawa konsekuensi yang terkadang saling berseberangan. Begitu pula dengan Tol Pejagan-Pemalang.
Di satu sisi, keberadaannya menguntungkan pemudik lantaran tak mesti lagi terjebak macet selepas Tol Kanci-Pejagang. Akan tetapi, di sisi lain, ia merugikan orang lain seperti para pedagang telur asin. (Supardji Rasban/X-9)