BERKAH besar turun di bulan Ramadan. Kemarin, warga Kota Pekanbaru, Riau, telah membuktikannya.
Setelah hampir satu bulan dihembalang kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan, akhirnya warga bisa berlega hati.
Seusai melaksanakan salat istiska yang diikuti ratusan orang di halaman Kantor Gubernur Riau, Tuhan langsung menjawabnya dengan menurunkan hujan deras.
Hujan mengguyur selama satu setengah jam, mulai pukul 15.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB.
"Kami sangat bersyukur hujan akhirnya mengguyur Kota Pekanbaru setelah satu bulan dilanda kekeringan. Kami berharap kabut asap ini segera hilang dari Riau," ungkap Budi Utama, warga Jalan Nenas, Pekanbaru.
Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengatakan pihaknya telah melakukan segala upaya untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan.
Mulai hujan buatan, water boombing, hingga melalui pemadaman jalur darat.
Namun, semua itu tidak juga berhasil.
"Karena itu, melalui salat, kami meminta hujan. Kami juga bersama-sama memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang pernah kami perbuat," ungkapnya.
Meski banyak warga mengaku berlega hati, sebenarnya hujan deras belum mampu meredakan pekatnya kabut asap yang menyelimuti kota.
Sampai kemarin, status kualitas udara di kota itu masih dalam posisi tidak sehat menuju ke kondisi berbahaya bagi kesehatan manusia.
Dari pantauan terakhir satelit National Oceanic Atmospheric and Administration (NOAA) yang dilansir dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), masih terdeteksi adanya 107 titik api kebakaran hutan dan lahan di Sumatra.
Jumlah titik api terbanyak berada di Riau di sepanjang pantai timur di wilayah Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, dan Pelalawan.
Air bersih Dari daerah lain, kekeringan dilaporkan makin meluas.
Di Kebumen, Jawa Tengah, misalnya, badan penanggulangan bencana daerah harus mendistribusikan 40.000 liter air bersih untuk delapan desa yang tersebar di enam kecamatan.
Distribusi tersebut diperuntukkan ribuan penduduk yang telah mengalami krisis air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kebumen Muhyidin mengatakan
kekeringan dan kekurangan air bersih menyebar di Kecamatan Buayan, Rowokele, Pejagoan, Karangsambung, Poncowarno, dan Kebumen.
Ke-6 kecamatan tersebut menjadi prioritas karena warga sangat membutuhkan pasokan air bersih.
"Sumur-sumur mereka mulai mengering," jelas Muhyidin.
Dia menambahkan, untuk membantu warga, BPBD Kebumen mengerahkan empat truk tangki yang membawa air bersih 5.000 liter untuk setiap truknya.
"Kami menargetkan pekan ini bisa mendistribusikan air bersih untuk 30 desa yang tersebar di 13 kecamatan," katanya.
Saat ini, sudah ada 61 desa yang tersebar di 17 kecamatan di Kebumen yang telah mengajukan permohonan bantuan air bersih.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kebumen Eko Widianto mengungkapkan tahun ini pihaknya mengalokasikan bantuan air bersih sebanyak 1.268 tangki.
"Alokasi anggarannya mencapai Rp250 juta yang bersumber dari APBD 2015."
Di Sukabumi, Jawa Barat, petani dari Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, berhasil melakukan panen perdana padi hibrida meski sawah mereka dilanda kekeringan.
Panen dilakukan di atas lahan seluas 2.500 hektare dengan hasil per hektare mencapai 7 ton.
Panen itu merupakan hasil dari Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu yang melibatkan TNI.
"Ini prestasi dan bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain," papar Komandan Korem 061 Sukabumi, Kolonel Inf Fulad.
Kepala Penerangan Kodam III Siliwangi Kolonel Robertson Ismail menyatakan keberhasilan panen raya padi tersebut membuktikan keseriusan Korem 061 Sukabumi untuk membantu mewujudkan ketahanan pangan. (LD/EM/BB/N-3)