Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DINAS Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan tidak ditemukan peredaran vaksin palsu di wilayah DIY. Dinas Kesehatan DIY bersama Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta telah melakukan sampling dan hasilnya keseluruhannya tidak ada yang terindikasi palsu.
"Berdasarkan hasil pengawasan secara sampling 100 persen vaksin yang digunakan di fasilitas kesehatan swasta di DIY tidak terindikasi palsu," kata Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Sulistiyo.
Sulistyo menjelaskan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta telah melakukan pengawasan langsung secara sampling ke 19 sarana pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, klinik swasta, apotek serta pedagang besar farmasi (PBF).
Dari hasil pengawasan tersebut semua vaksin yang digunakan berasal dari puskesmas setempat dan dibeli dari distributor resmi penyedia vaksin.
Menurut Sulistiyo, rumah sakit maupun pelayanan kesehatan negeri, Dinkes dan BBPOM tidak melakukan pengawasan sebab produsen vaksin serta jalur distribusinya resmi dari pemerintah yang telah dijamin mutu dan
keamanannya.
"Sehingga diharapkan masyarakat khususnya orang tua tidak usah merasa ragu apakah anaknya mendapatkan vaksin asli atau palsu," katanya.
Dinkes DIY, tambahnya, telah membuat surat edaran para Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se DIY, para direktur rumah sakit se DIY, Ikatan Dokter Indonesia DIY, Ikatan Bidan Indonesia Yogyakarta, hingga Persatuan Perawat Nasional Indonesia Yogyakarta mengenai kewaspadaan terhadap vaksin palsu.
"Pada intinya vaksin yang terindikasi palsu adalah vaksin yang pembeliannya melalui jalur tidak resmi," kata dia.
Sementara Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DIY, Ida Safitri mengatakan jika orang tua masih merasa ragu dan resah dapat kembali memberikan imunisasi ulang pada anaknya yang berusia 18-36 bulan dengan datang ke puskesmas terdekat untuk diberikan imunisasi pentavalen (DPT, HB, HIB) dan imunisasi Campak.
Sedangkan bagi anak yang sudah berusia 6-8 tahun bisa mengikuti bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) di Sekolah Dasar masing-masing untuk mendapatkan imunisasi Campak, DT untuk anak kelas 1 SD dan tetanus dipteri untuk anak kelas 2 dan 3 SD.
"Imunisasi ulang tidak menimbulkan efek samping, justru anak akan semakin kuat antibody-nya," kata dia. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved