Waspadai Peredaran Daging Oplosan

Agus Utantoro
01/7/2016 09:58
Waspadai Peredaran Daging Oplosan
(ANTARA//M Risyal Hidayat)

MASYARAKAT diminta mewaspadai peredaran makanan yang tidak halal saat menghadapi Idul Fitri. Karena peningkatan kebutuhan pangan pada masa Idul Fitri ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mengeruk keuntungan dengan cara-cara yang tidak benar dan tidak sah.

Diantara bahan pangan yang beredar yang dimungkinkan tidak halal itu adalah daging ayam tiren (mati kemaren), daging gelonggongan serta daging sapi yang dicampur dengan daging hewan yang tidak halal. Daging oplosan yang mungkin beredar adalah daging sapi dengan daging babi, daging kambing dengan daging anjing.

Di luar itu, masyarakat diimbau untuk mewaspadai bentuk-bentuk makanan olahan yang sesungguhnya berasal dari daging tikus, daging ular dan lain-lain.

"Daging gelonggongan adalah daging yang didapat dari hewan yang sebelum disembelih terlebih diminumi air secara berlebihan. Bahkan, tak jarang hewan bersangkutan pingsan karena kelebihan minum, baru dipotong. Tujuan dari ini untuk mendapatkan timbangan lebih berat," ujar Direktur Halal Centre Fakultas Peternakan UGM, Hanung Danar Dono, Ph.D, di Fakultas Peternakan UGM, Kamis (30/6).

Lebih lanjut Hanung menyatakan makanan yang disajikan dan dijual untuk masyarakat mestinya harus thoyyib. Artinya, makanan yang dikonsumsi memberi rasa aman yang berbasis pada status kesehatan.

"Makanan bisa menjadi tidak aman dan berbahaya jika terkena aneka cemaran seperti cemaran mikrobiologi, kimia dan fisika," ujar Hanung.

Sedangkan Dr. Nurliyani, M.S, pakar pengolahan pangan berkualitas, berharap semua pihak bisa menyajikan makanan yang baik dan aman. Karena dengan menyajikan makanan yang baik dan aman berarti turut serta meningkatkan kesehatan masyarakat.

Nurliyani mengimbau menyajikan makanan yang baik dan aman sangat penting dilakukan. Apalagi, mengingat di kampus UGM sempat mewabah penyakit hepatitis yang menyerang 122 mahasiswa dan tujuh tenaga kependidikan.

"Ini dikarenakan terjadi kontaminasi makanan dengan tingkat kebersihan yang kurang terjaga. Sementara beberapa penjual di seputar kampus kurang menjaga kebersihan yang menjadikan makanan tidak higienis. Untuk mencegah penyakit ini sangat diperlukan partisipasi banyak pihak," ungkap dosen Jurusan Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan UGM itu. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya