Musim kemarau tahun ini telah membuat warga sejumlah perdesaan di Boyolali bagian utara harus berburu air di tengah hutan dan di kali mati.
Hal tersebut dilakukan karena bantuan air dari pemerintah kabupaten belum ada tanda-tanda kepastian. Untuk membeli air dari pihak swasta sangat mahal, yakni mencapai Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per tangki dengan volume 4.000 liter.
"Kemarau memang selalu membawa derita karena krisis air bersih selalu terjadi. Yang ekonominya kuat, ya beli air dengan harga Rp180 ribu hingga Rp200 ribu. Yang tidak kuat ya terpaksa berburu air ke sumber air Ngaren di tengah hutan atau di kali mati dengan membuat tuk air atau masuk ke hutan Ngaren," ujar Suratno, warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, kemarin.
Menurut Kades Ngaren, Edi Suyatman, setiap musim kering krisis air bersih selalu menggerus perekonomian warga. Sebab, untuk mencukupi kebutuhan air bersih seharga Rp180 ribu hanya untuk seminggu, itu jelas membebani keuangan keluarga. Karena itu, sebagian warga banyak yang nekat berburu air ke tengah hutan, sambil menanti adanya dermawan yang menyumbangkan air atau bantuan air bersih dari pemkab. Sebagian warga lain pergi ke sungai yang sudah kering kerontang untuk kemudian membuat sumber air atau tuk dengan cara melubangi. Airnya pun tidak bening dan agak keruh, khusus untuk mandi.
Sementara itu, kekeringan di kawasan lereng Merapi kini juga telah membuat warga harus bersusah payah dalam mencari air bersih. Setidaknya warga 13 desa di lereng Merapi di Kecamatan Kemalang, Klaten, Jateng, meminta bantuan air bersih. Untuk menyikapi permintaan air bersih dari warga tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten telah mengirim bantuan air ke beberapa desa di lereng Merapi. Pengiriman bantuan itu dilakukan sejak 25 Juni lalu.
"Setiap hari kami memasok bantuan air bersih ke daerah rawan kekeringan itu. Hingga hari ini (kemarin) sudah tersalurkan 46 tangki berkapasitas 5.000 liter," kata Kasi Kedaruratan BPBD Klaten Eko Pambudi,kemarin.
Musim kemarau juga telah membuat debit 21 sumber air yang dikelola PDAM Tirto Agung Temanggung, Jateng, mengalami penurunan rata-rata 10% sejak dua pekan terakhir.
Penurunan debit sumber air, menurut Direktur PDAM Tirta Agung Temanggung, Suparto Edi Sucahyo, diperkirakan akan terus terjadi hingga puncak kemarau sekitar Agustus-September. Penurunan debit air juga terjadi di bendungan Rentang, Majalengka, Jawa Barat. Petani di wilayah Cirebon pun semakin menjerit.
Menguat Gejala gelombang panas El Nino di Jawa Tengah bagian selatan menguat. Padahal, dalam prediksi awal kemarau lalu, gelombang panas El Nino di Jateng selatan lemah. Namun, kenyataannya saat sekarang ada kecenderungan menguat menjadi El Nino sedang.
Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo mengungkapkan bahwa gejala El Nino di Jateng selatan diperkirakan menguat. "Dengan menguatnya gelombang panas El Nino, dalam dua bulan mendatang atau Juli-Agustus 2015, curah hujan diprediksi di bawah normal atau terjadi kekeringan," ujar Teguh, kemarin.
Kekeringan juga telah membuat lebih dari 20 hektare areal persawahan di Kelurahan Oebufu dan Oepura di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, tidak diolah akibat pasokan air ke persawahan terhenti.
Di Bali, ratusan hektare lahan sawah diperkirakan bakal terancam kekeringan. Ancaman kekeringan ini terutama banyak terjadi di Kabupaten Jembrana dan Tabanan. (Tim/N-1)