Ditopang Bisnis, Biaya Pendidikan Jadi Murah

08/7/2015 00:00
Ditopang Bisnis, Biaya Pendidikan Jadi Murah
(ANTARA/Moch Asim)
KEMANDIRIAN yang dicontohkan para pengajar dan kiai di Ponpes Sidogiri sangat membantu para santri dan orangtua (wali) santri untuk mendapatkan biaya pendidikan murah.

Para santri membayar uang SPP atau uang iuran sebesar Rp280 ribu hingga Rp560 ribu untuk satu tahun. Para santri dapat mengikuti proses belajar di ponpes dengan segala fasilitasnya.

Ustaz Saifulloh menjelaskan uang yang dibayarkan para santri itu sebetulnya tidak besar. Bila dirinci lebih jauh, para santri sebetulnya hanya membayar uang SPP sebesar Rp23.300 hingga Rp46 ribu. Sisanya untuk keperluan pengembangan pesantren.

Selama di pemondokan, para santri juga mendapatkan kamar asrama dan biaya pengobatan gratis selama mereka memondok. "Biaya pendidikan termurah Rp280 ribu dan paling mahal sebesar Rp560 ribu untuk masa belajar selama setahun. Itu sesuai tekad majelis keluarga yang mengamanatkan kepada pengurus untuk berupaya memberikan pendidikan dengan biaya terjangkau disertai kualitas yang terbagus," kata Ustaz Saifulloh.

Dengan biaya sebesar itu, para santri mendapat fasilitas pendidikan selama menjalani proses belajar, biaya asrama permukiman atau pondokan, sekaligus biaya pengobatan gratis sepanjang waktu.

Untuk pengobatan san­tri, Ponpes Sidogiri memiliki klinik kesehatan yang terdiri atas 3 dokter spesialis, 3 dokter umum, 12 paramedis, dan 26 petugas umum kesehatan. Di klinik kesehatan itu juga terdapat sejumlah peralatan yang bisa digunakan.

Menurutnya, biaya pendidikan sebesar itu hanya cukup untuk memenuhi 20% dari seluruh total biaya pendidikan di Ponpes Sidogiri. Kekurangannya yang mencapai 80% didapatkan dari berbagai usaha yang dilakukan koperasi Ponpes Sidogiri.

Keuntungan yang didapatkan koperasi digunakan untuk biaya pengembangan pendidikan. "Pengembangan pendidikan tidak sebatas di dalam pondok, tapi di sejumlah daerah yakni di Surabaya dan Bekasi, Jawa Barat, telah didirikan kompleks pendidikan Sidogiri.

Di Surabaya terdapat dua lokasi pendidikan, yakni Darul Khidmah Sidogiri dan Darul Aitam Sidogiri, dengan jumlah santri masing-masing 500 orang. Di Bekasi, Jawa Barat, terdapat satu lokasi yakni Darul Khidmah Sidogiri dengan jumlah santri sebanyak 400 orang.

"Untuk Darul Aitam, itu murni pengabdian dari Pesantren Sidogiri memberikan pendidikan kepada masyarakat secara gratis karena mayoritas  anak-anak yatim. Kami juga mendirikan Darul Aitam Sidogiri di Pasuruan dan Lumajang, serta Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah," jelasnya.

Selain mempunyai cabang di sejumlah daerah, pesantren tersebut memiliki madrasah diniah sebanyak 168 di Jawa Timur. Madrasah-madrasah itu berafiliasi dengan pesantren tertua di Jawa tersebut, terutama dalam peningkatan kualitas dan mutu pendidikan.

Sejak 1961, Ponpes Sidogiri selalu mengirimkan guru tugas. Setiap tahunnya jumlah guru tugas bertambah. Pada tahun ini guru tugas yang diberangkatkan sebanyak 700 santri.

Dengan biaya pendidikan yang murah itu, jumlah santri dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun ajaran 2015, jumlah santri yang bermukim untuk laki-laki sebanyak 9.500 orang. Rinciannya, santri lama 7.600 orang dan santri baru sebanyak 1.900 orang. Untuk santriwati, jumlahnya 3.500 orang.Santri-santri itu berasal dari berbagai daerah baik di Jawa maupun luar Jawa, juga dari luar negeri yakni Malaysia, Singapura, dan Australia. Tahun ini ada 66 santri asal Malaysia belajar di Sidogiri. (AB/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya