DI tengah kesibukan belajar agama dan berbisnis, para santri tetap memiliki waktu untuk berdakwah. Para santri diwajibkan untuk berdakwah ke masyarakat melalui program Kampung Qurani. Para santri wajib menyalurkan ilmu mereka kepada masyarakat di kampung-kampung, baik dengan cara mengajar ataupun berdakwah.
Kegiatan sosial diwadahi melalui lembaga amil zakat (LAZ) dan lembaga waqof/wakaf (Lkaf) yang didirikan sejak 2005. Lembaga itu memiliki tugas mengumpulkan dana, baik dana dari alumni maupun dari masyarakat. Dana yang terkumpul disalurkan dalam berbagai bentuk kegiatan sosial.
Kegiatan sosial dari LAZ Sidogiri disalurkan melalui program pendidikan berdaya dengan pemberian bea siswa, ekonomi berdaya melalui pemberian bantuan UKM, kesehatan berdaya dengan pengobatan gratis, dan lingkungan berdaya melalui kegiatan qoryah toyyibah atau bedah rumah fakir miskin.
"Pada 2014 kami telah menyalurkan dana sebesar Rp10 miliar dalam berbagai bentuk kegiatan sosial, sedangkan tahun ini kami menargetkan bisa terkumpul Rp23 miliar," kata Direktur LAZ Sidogiri Ustaz Masykuri Abdurahman.
Tahun ini LAZ Sidogiri akan fokus menyalurkan dana ke desa binaan melalui cabang-cabang LAZ. Terdapat 20 daerah di Jawa Timur yang memiliki cabang LAZ Sidogiri. Menurut rencana, setiap cabang memiliki lima desa binaan yang diberdayakan baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, ,maupun lingkungan.
"Model desa binaan berkonsep Sidogiri Community Development (SCD) dimulai Juni lalu. Modelnya diawali bedah rumah di Desa Rowo Bulu, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan," jelas Masykuri.
Dalam kegiatan bedah rumah itu, LAZ Sidogiri menganggarkan dana sebesar Rp15 juta untuk sebuah rumah fakir miskin. Bekerja sama dengan Pemkab Pasuruan, dana itu akan ditambah Rp10 juta sehingga setiap rumah mendapat dana rehab sebesar Rp25 juta.
Hal lain yang membuat ikatan para santri menjadi kuat ialah pertemuan alumni. Ikatan Alumni Santri Sidogiri menjadi ujung tombak untuk mengetahui perkembangan alumni. Pertemuan alumni pun sering menelurkan ide-ide untuk dikembangkan dan diteruskan para santri yang sedang belajar di Sidogiri.
"Program-program berkelanjutan yang harus diteruskan para santri ini muncul karena banyaknya ide yang disumbangkan saat temu alumni," lanjutnya.
Salah satu ide atau gagasan yang kemudian dikembangkan para santri yaitu mendirikan tempat perawatan bagi orang yang mengalami gangguan jiwa. Tempat perawatan bernama Nailul Falah berlokasi di Desa Wonoanyar, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.
Bahkan saat reuni diadakan, alumni tidak jarang nyantri kembali. "Memperdalam lagi ilmu agama untuk sekadar cooling down, melupakan kesibukan duniawi sejenak," imbuh Masykuri. (AB/N-4)