Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Hasyim Muzadi (kedua dari kiri) disambut para santri saat akan memberi kuliah umum dengan tema Strategi dakwah di era postmodern di Ponpes Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (30/5).(ANTARA/Moch Asim)
DI beberapa ruangan, para santri jenjang aliah tampak khidmat menyimak pembacaan kitab kuning yang disampaikan kiai. Mereka kemudian menuliskan makna atau tafsir dari bacaan itu.
Di ruang lain terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran. Sejumlah santri duduk bersila di tikar sambil menyimak rekan mereka mengaji. Suasana di Pondok Pesantren Sidogiri yang berlokasi di Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Jumat sore (3/7) itu tampak ramai menjelang berbuka puasa.
Ponpes Sidogiri merupakan pesantren tradisional tertua di Indonesia. Ponpes Sidogiri didirikan SayÂyid Sulaiman pada 1745. Jumlah santri yang mondok mencapai 13 ribu orang dan menjadikan Ponpes Sidogiri salah satu pesantren terbesar di Indonesia. Wakil Ketua Umum Ponpes Sidogiri KH Nawawy Sadoellah mengungkapkan Ponpes Sidogiri masih memegang prinsip dan budaya pesantren kuno yang mempelajari kitab kuning (salaf).
"Tugas para santri ialah menuntut ilmu dengan mengkaji kitab-kitab kuning. Jenjang pendidikannya dilangsungkan dalam pola klasikal, mulai jenjang ibtidaiah untuk kelas pagi, siangnya untuk sanawiah, dan sore untuk aliah," terang Nawawy.
Mereka belajar ilmu keagamaan mulai tafsir, fikih, bahasa, nahu, saraf, tauhid, dan moral dalam berakhlakul karimah. Pola klasikal yang digunakan untuk kajian kitab kuning yakni bandongan atau wetonon untuk santri jenjang ibtidaiah. Pengajar atau kiai membaca kitab kuning dan menerangkan secara detail, sedangkan para santri memurodi atau menuliskan makna atau tafsir dari kitab kuning yang dibaca kiai.
Di Ponpes Sidogiri, para santri tidak melulu belajar kitab kuning. Mereka juga sudah digembleng menjadi pengusaha termasuk penguasaan teknologi. "Banyak ekstrakulikulernya untuk santri. Mereka mendapatkan banyak materi mulai menulis, penguasaan teknologi, hingga grafika," terang Sekretaris Umum Ponpes Sidogiri Ustaz A Saifulloh Naji.
Di balik bilik-bilik asrama di lingkungan pesanÂtren asuhan KH Nawawi Abd Jalil itu, para santri mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan mereka. "Selain menimba ilmu di pesantren, mereka harus terjun ke masyarakat sebagai pendakwah ataupun aktivitas usaha," tambah Saifulloh.
Beberapa unit usaha yang berkembang pesat antara lain koperasi ponpes yang di dalamnya terdapat usaha ritel, grafika, pembuatan air minum dalam kemasan, dan usaha lainnya. Di bidang sosial terdapat lembaga amil zakat (LAZ) dan lembaga wakaf (Lkaf). Kedua lembaga itu fokus dalam aktivitas sosial sumbangsih ponpes ke masyarakat.
Usaha ritel yang dikelola Ponpes Sidogiri sejak 1961 dengan membuka toko kelontong Basmalah terus berkembang. Ada 74 cabang toko Basmalah di seputar Jawa Timur. Aset usaha ritel tersebut pada akhir 2014 tercatat Rp67,7 miliar dengan perputaran uang Rp309 miliar.
Belum lagi usaha air minum dalam kemasan meÂrek Santri yang dikelola para santri dan penerbitan buku-buku. "Dengan banyaknya usaha yang dikelola para santri, kami telah menciptakan kemandirian di lingkungan pesantren," ujar Saifulloh.
Kemandirian yang dimaksud, lanjutnya, ialah sampai sekarang Ponpes Sidogiri tidak pernah meminta bantuan pemerintah. Seluruh proses belajar mengajar di pesantren sejak 2010 tidak lagi mendapatkan bantuan biaya operasional sekolah (BOS).
"Fasilitas gedung, asrama, ruang belajar, pembangunan gedung baru, hingga gedung-gedung pertemuan, termasuk sarana prasarana yang ada berasal dari uang pesantren. Sekali lagi tidak ada uang bantuan pemerintah," imbuhnya.
Selain untuk kemandirian pesantren, penguatan ekonomi tersebut untuk pengembangan dakwah alumni terhadap masyarakat. Usaha ritel atau toko-toko yang dikelola koperasi pondok pesantren tersebut secara langsung membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Seperti dikatakan Saifulloh, toko-toko yang dikelola Ponpes Sidogiri menampung hasil produksi UKM milik masyarakat. "Sehingga masyarakat mendapat keuntungan dari perputaran usaha yang dilakukannya. Karena masyarakat mendapat keuntungan dari usaha itu, ikatan dan hubungan emosional masyarakat dengan Ponpes Sidogiri semakin menguat," ujarnya.
Koperasi syariah Alumni yang memiliki berbagai latar belakang profesi pun ikut mengembangkan pesantren tersebut dengan mengembangkan koperasi simpan pinjam syariah atau Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Sidogiri. Uang yang dikelola di BMT Sidogiri saat ini Rp18 triliun. "Uang itu akhirnya diputar lagi untuk merambah bisnis properti dengan menjadi developer pembangunan rumah huni di Pasuruan. Properti Pasuruan Regency serta Green Village Sidogiri dikelola BMT Sidogiri," kata Direktur LAZ Sidogiri Masykuri Abdurahman.
Ia menambahkan dana sosial yang terkumpul di LAZ sejak 2005 sudah tersalurkan Rp10 miliar pada 2014. "Targetnya Rp23 miliar pada tahun ini," jelasnya.
Uang bantuan kepada masyarakat itu digunakan untuk pendidikan, beasiswa, pemberdayaan ekonomi, dan bedah rumah fakir miskin. Untuk tahun ini, LAZ Sidogiri dibantu 20 cabangnya di Jawa Timur fokus mengembangkan lima desa binaan. Desa-desa binaan tersebut diberdayakan baik di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan dengan konsep Sidogiri Community Development pada awal Juni lalu. "Penerapannya akan diawali dengan bedah rumah di Desa Rowo Bulu, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan," pungkas Masykuri. (N-4)