Menggantikan Bata dengan Limbah Plastik

(AT/M-3)
25/6/2016 00:30
Menggantikan Bata dengan Limbah Plastik
(DOK. ECOBRICKS)

PAGI itu sekelompok ibu dan anak muda berkumpul di Taman Gajah Wong Educational Park, Kota Yogyakarta. Mereka hendak membuat panggung dan tugu. Namun, bahan yang digunakan tidak lazim, yakni botol-botol plastik bervolume 600 ml yang di dalam penuh diisi suatu bahan yang berwarna-warna. Bahan pengisi itu ternyata berbagai limbah kemasan atau pembungkus dari plastik. Bisa berupa kantong plastik, gelas plastik, maupun kemasan lain yang terbuat dari plastik yang tidak tebal. Plastik-plastik itu dipilin dan ditekan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi botol dengan sempurna.

Dengan susunan berbentuk heksagonal, botol-botol yang telah padat itu ternyata cukup kuat untuk dijejak sehingga dapat digunakan bersusun sebagai panggung. Mereka menyebut 'bata' dari plastik itu sebagai Ecobricks. Pencetus Ecobricks ialah Russell Maier. Jumat (3/6) itu Maier hadir langsung dalam acara yang sekaligus menjadi demontrasi pemanfaatan Ecobriks dan pencanangan gerakan Ecobricks di kota tersebut. Pelatihan pembuatan Ecobricks di Kota Yogyakarta sendiri telah dua bulan dilakukan Maier bersama timnya, Global Ecobrick Alliance. Program mereka didukung Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta.

"Saya pertama kali membuat Ecobricks empat tahun lalu saat tinggal di sebuah desa di Filipina. Idenya dilatari dari kegelisahan saya pada sampah plastik yang banyak terdapat di sana," tutur Maier. Warga Kanada itu kemudian membuat panduan pembuatan Ecobricks dan ditujukan bagi sekolah-sekolah di sekitar tempat tinggalnya di bagian utara Filipina. Sekarang panduan itu telah menjadi bagian kurikulum yang diterapkan di lebih dari 8.000 sekolah di sana. Di rumahnya, pria yang kini tinggal di Indonesia itu juga menjadikan Ecobricks sebagai penyusun meja dan kursi. "Kini saya memandang plastik bekas tidak lagi sebagai sampah, tetapi bahan untuk membuat Ecobricks," kata dia.

Harapan baru Yogyakarta
Tri Susanto ialah salah satu warga dari kelompok Bank Sampah di Kelurahan Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, yang hari itu tampak antusias ambil bagian. Ia mengaku membuat Ecobricks mudah saja. "Cukup memasukkan sampah-sampah plastik ke dalam botol kemudian disodok dengan bambu hingga padat," kata dia. Dalam satu botol bisa berisi sekitar 210-300 gram plastik bekas. Setelah jadi, botol-botol tersebut bisa disusun menjadi berbagai bangunan, dari tirai, kursi, meja, panggung, hingga dinding. "Kepadatannya plastik di dalam botol disesuaikan dengan pemanfaatannya. Kalau untuk tirai, misalnya, jangan terlalu padat biar tidak berat. Namun, jika untuk dinding, panggung, atau meja-kursi sebaiknya dibuat padat agar lebih kukuh," tambahnya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Suyana berharap gerakan pemanfaatan sampah plastik menjadi Ecobricks dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Saat ini, Kota Yogyakarta setiap harinya menghasilkan sekitar 200-250 ton sampah per hari, yang mana sampah plastik termasuk di dalamnya. "Kita sudah berusaha dari 2009-2015 baru mampu mengurangi 3,5% dari target sebesar 20%," kata Suyana. Ia menyadari pengelolaan lingkungan dengan konsep zero waste masih sangat sulit, sebab itu yang dapat dilakukan ialah mengurangi volume sampah.

Namun, Suyanto menekankan gerakan pembuatan Ecobricks tidak dilakukan dengan mengambil sampah dari daerah lain. Ia mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan sampah yang ada di lingkungan sendiri. Dengan begitu, pengurangan sampah bisa tercapai. Memang telah banyak dikhawatirkan, gerakan-gerakan pemanfaatan sampah baik untuk energi maupun barang justru menjadi bumerang. Gerakan ini membuat masyarakat tetap banyak menghasilkan sampah. Padahal, cara terbaik ialah mengurangi sampah sejak awal, yang berarti menekan konsumsi. Contohnya ialah dengan gerakan plastik berbayar.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya