Selamat Setelah Terkubur Selama 12 Jam, Riza Minta Pendidikan Kebencanaan di Desanya

Furqon Ulya Himawan
24/6/2016 07:03
Selamat Setelah Terkubur Selama 12 Jam, Riza Minta Pendidikan Kebencanaan di Desanya
(MI/Furqon Ulya Himawan)

BANYAK hal yang bisa diambil hikmahnya dari bencana tanah longsor di Purworejo, Jawa Tengah yang mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.

Guru Taman Kanak-Kanak Riza Oktavi Nugraheni adalah salah satu orang yang beruntung. Perempuan berusia 24 tahun itu berhasil selamat setelah terencam lumpur selama kurang lebih 12 jam.

Dia kini masih terbaring di rumah sakit RSUD Dr Tjitrowardoyo, Purworejo, Jawa Tengah. Di sampingnya, Yohanca Gusti Darma, suaminya, duduk menemani dan meladeni beberapa kebutuhannya.

"Dia baru saja tidur," ucap Yohanca saat Media Indonesia menjenguk ke rumah sakit itu, Kamis (23/06).

Saat terjadi longsor pada Sabtu (18/6) di sejumlah dusun di Purworejo, Riza baru saja menyelesaikan aktivitasnya seperti biasa,
memandikan ananya Elnaya Yoselin Kyla yang baru berusia 1,4 tahun, menyuapinya makan sore, dan setelah itu bercengkerama dengan Ibunya, Harlinah, 53.

Pada sekitar pukul 18.30 WIB, Harlinah sempat keluar menengok keluar jendela dan menyatakan bahwa hujannya semakin lebat. Dia kemudian kembali ke dalam rumah dan berkumpul bersama Riza dan Elnaya.

Riza pun masih ingat, Elnaya sempat minta wafer. Namun, sesaat setelah itu, terdengar suara gemuruh dan ombak lumpur datang dari depan rumah.

"Tidak lama ada suara gemuruh seperti pesawat terbang. Lalu terdengar suara benturan keras dan semua terlempar," ungkap Yohanca menirukan cerita Riza.

Banyak korban meninggal dari kejadian tanah longsor itu. Dari catatan posko pusat informasi bencana alam tanah longsor di Purworejo, Kamis (23/6), ada 43 korban meninggal, 6 orang belum ditemukan, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Sementara, ratusan penduduk lainnya masih terisolasi sampai sekarang gara-gara akses jalan tertutup tanah.

Di antara korban yang meninggal adalah anak dan ibu Riza, sementara Riza beruntung bisa diselamatkan.

"Istri saya diangkat dari rendaman lumpur pada Minggu (19/6) pagi sekitar pukul 07.00 WIB," kata Yohanca.

Yohanca meneruskan cerita dari orang yang melakukan proses evakuasi tubuh Riza. Saat itu, seorang warga melihat sesuatu yang bergerak-gerak di lumpur. Setelah didekati terlihat sebuah kaki. Lalu beberapa warga berinisiatif mengeluarkan karena diduga korban tanah longsor.

Proses pengangkatan pun sangat berhati-hati, karena banyak pecahan kaca di sekitar tubuh Riza. Setelah terangkat, tubuh Riza langsung ditandu dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.

Yohanca sendiri tidak terluka. Pasalnya, saat musibah itu terjadi, dia sedang berada di Cikampek, bekerja mencari nafkah untuk anak istrinya.

Dia pulang ketika dikabari kakak ipanya kalau terjadi bencana tanah longsor di desanya.

Sebenarnya, daerah Riza sering dilanda longsor ketika hujan turun. Namun, skalanya kecil sehingga dianggap sudah biasa.

Longsor yang terjadi akhir pekan lalu merupakan longsor yang paling besar dan tidak pernah diduga warga sebelumnya.

Suparlan, 61, warga Dusun Caok, tetangga desanya Riza, mengaku baru sekali itu melihat longsor besar dan menerjang rumah-rumah penduduk sehingga menimbulkan puluhan korban meninggal. Biasanya, longsoran kecil sering kali terjadi saat hujan deras.

"Tapi baru kali ini ada longsor besar di desa saya," katanya.

Secara logika, Suparlan mengaku menyatakan longsor di desanya tidak mungkin karena hutan gundul. Karena pohon masih banyak, tidak ada yang ditebangi dan seharusnya bisa menyimpan banyak air di dalam tanah.

"Jadi, bukan karena lahan gundul," tegasnya.

Namun, meski sudah sering terjadi bencana longsor, Suparlan tidak mengetahui secara pasti bagaimana cara menyelamatkan diri ketika ada longsor. Padahal rumah Suparlan tepat berada di dekat longsoran.

"Biasanya juga tidak apa-apa, cuma longsor kecil," akunya.

Selama ini, Riza mengaku tidak pernah mendapatkan pemahaman tentang kebencaanaan. Pun, dia tidak tahu kalau daerahnya merupakan daerah rawan bencana tanah longsor, sampai akhirnya bencana itu benar-benar menerjang desanya dan memporak-porandakan rumahnya.

"Tidak pernah ada mitigasi bencana," kata Riza.

Pernyataan itu diamini suaminya, Yohanca. "Saya juga tidak pernah mendapatkan pemahaman seperti itu."

Berdasarkan kejadian yang menimpa istrinya, Yohanca melihat sangat perlu pendidikan kebencanaan terhadap warga desanya. Memberikan pemahaman kepada warga bagaimana cara hidup di daerah rawan bencana.

Riza yang mengalami langsung dampak longsor akhirnya menyadari, bahwa daerahnya rawan bencana. Dia berharap, pemerintah atau pemangku kebijakan perlu melakukan pendidikan mitigasi bencana agar nantinya warga bisa hidup berdampingan dengan alam dan tangguh menghadapi bencana.

"Sehingga tidak ada lagi korban," harap Riza.

Tanah longsor yang menerjang desa Riza merupakan contoh bagi daerah lain. Mereka yang tinggal di daerah lereng perbukitan harus mengerti tentang mitigasi bencana, terutama di daerah yang rawan longsor.

Dan meskipun hutan di perbukitan hijau dan tidak gundul atau bahkan sejak jaman nenek moyang tidak pernah terjadi bencana, kewaspadaan perlu dijaga agar tidak ada lagi korban meninggal atau meninggal.

"Tadinya tidak tahu kalau (daerah saya) rawan bencana, karena sejak nenek moyang hidup di situ juga aman. Tapi sekarang saya paham bahwa mitigasi bencana itu penting," pungkas Riza. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya