Kemarau yang melanda Purbalingga, Jawa Tengah, menyebabkan 700 keluarga di lereng Gunung Slamet kesulitan air bersih.
Meski warga sudah mengajukan permintaan bantuan ke Pemkab Purbalingga, belum ada pasokan ke mereka. Warga yang tinggal di Dusun Gunung Malang, Desa Serang, dan Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mukson, 43, warga Dusun Gunung Malang, Desa Serang, kemarin, mengatakan biasanya warga menggantungkan pasokan air bersih dari air hujan yang disimpan di bak penampungan. "Hujan sudah lama tidak turun. Kini kami membeli air bersih. Setiap jeriken isi 20 liter harganya Rp1.000. Biasanya setiap hari, saya membeli 10 jeriken," jelas Mukson.
Secara terpisah, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga Priyo Satmoko mengatakan hingga kini ada dua desa yang telah mengajukan permintaan air bersih, yakni Desa Kutabawa dan Desa Serang di Kecamatan Karangreja. "Kami menyiapkan bantuan air bersih ke dua lokasi tersebut," kata Priyo.
Menurutnya, tahun ini, BPBD Purbalingga menyiapkan 977 tangki air bersih yang disiapkan bagi 26 desa yang rawan kekeringan. "Desa yang rawan kekeringan itu tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kejobong, Kaligondang, Pengadegan, Bobotsari, Karanganyar, Bobotsari, dan Karangreja," ujarnya.
Memenuhi kebutuhan air bersih dengan membeli juga dilakukan ratusan keluarga di Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jateng. "Sudah seminggu ini kami membeli air bersih. Uang hasil panen kacang dan palawija untuk membeli air bersih," jelas Kepala Desa Gudangharjo, Rakino, kemarin.
Di wilayah itu ada sumber air Bayutowo dengan debit 850 liter per detik, tetapi untuk mengangkat ke permukaan dibutuhkan anggaran hingga belasan miliar rupiah.
Kepala BPBD Kabupaten Temanggung Agus Sudaryono, kemarin, mengaku telah menerima permintaan bantuan air bersih yang dilayangkan tiga kecamatan, yakni Tlogomulyo, Jumo, dan Kandangan. "Kami akan mulai menyalurkan bantuan air bersih ke tujuh dusun yang sudah meminta air bersih pada Kamis (9/7) mendatang."
Di Brebes, kekeringan melanda ribuan hektare tanaman bawang merah di sejumlah desa di Kecamatan Bulakamba. Petani terpaksa membuat sumur dan menyedot air dengan pompa untuk mengairi tanaman bawang merah.
Di sisi lain, kemarau panjang sejak April lalu disikapi warga Padang, Sumatra Barat, dengan rencana menggelar salat Istiska, hari ini. Hal itu dikatakan oleh Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah, kemarin. Kebakaran lahan Musim kemarau juga memicu kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Di Jambi, Hutan Pematang Damar yang telah dialokasikan sebagai hutan wisata konservasi anggrek alam oleh Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi mulai terbakar. Kebakaran yang ditengarai telah terjadi sejak Jumat (3/7) menghanguskan sisi-sisi luar hutan.
"Kami berharap pemerintah Muaro Jambi segera turun ke lapangan untuk memadamkan api karena kalau dibiarkan, api akan semakin menyebar," ujar Ketua I Gerakan Muaro Jambi Bersakat, Adi Ismanto, kemarin.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, polusi asap yang diakibatkan kebakaran hutan dan lahan sudah sangat mengganggu aktivitas warga. Dasmian, prakirawan dari Stasiun Meteorologi Bandara Supadio Pontianak, kemarin, mengatakan pencemaran udara tersebut terutama dirasakan saat menjelang malam hingga pagi hari.
"Jarak pandang pada pagi hari berkisar 500 meter, sedangkan normalnya di atas 5 kilometer," kata Dasmian.