Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBAHAGIAAN ternyata tidak berasal dari semat (kekayaan harta benda), drajat (kedudukan), dan kramat (kekuasaan). Setiap orang dengan segala status sosial masih bisa merasakan bahagia dalam kehidupannya. Demikian juga dengan Ki Ageng Suryomentaram pun rela melepas semat, drajat, dan kramat sebagai seorang pangeran keraton untuk mencari kebahagiaan. Ia pun melepas gelarnya sebagai seorang pangeran Keraton Kasultanan Yogyakarta dan memilih mencari pencarian diri dengan berbagai liku-liku kehidupan. Hingga pada akhirnya, Ki Ageng menyebarkan ajaran kawruh jiwa yang ia rumuskan sendiri selama dalam proses pencarian diri.
Menurut Ryan Sugiarto, yang juga menulis tesis tentang Ki Ageng, menjelaskan Bendara Raden Mas Kusdiarmaji nama kecil Ki Ageng Suryomentaram dikenal sebagai sosok yang pandai menari, gemar membaca, dan pandai mengurai masalah. Kepandaiannya inilah membuat Kusdiarmaji yang baru berusia 18 tahun telah menyandang gelar Bendara Pangeran Haryo Suryomentaram. Dia ialah pangeran termuda di Keraton Yogyakarta karena pada umumnya pemberian gelar pangeran rata-rata di usia 30-40 tahun.
Selain pangeran termuda, ia juga memiliki kekayaan paling banyak. Namun Suryomentaram tidak menemukan kebahagiaan hidup di keraton. Ia hanya menemui interaksi antara tuan dan pelayan (ndoro dengan abdi). "Yang ia temui hanya disembah, yang diminta, dan yang diperintah," ungkap Ryan. Suryomentaram mengalami kebuntuan hidup. Ia tidak puas karena merasa belum mengenal manusia sesungguhnya yang tidak selalu hidup dengan sembahan.
Untuk menemukan hakikat sebagai manusia, ia pun mendatangi tempat-tempat yang membuatnya tenang, seperti Gua Langse, Pantai Parangtritis, hingga makam-makam keramat. Dalam perjalanan ke tempat yang tenang, Suryomentaram terlibat dialog tanya jawab dengan saudara maupun orang-orang yang ia temui. Perjalanan mencari jati diri ini setelah disulut tiga peristiwa yang menimpanya. Pertama, diberhentikannya sang kakek Danurejo VI sebagai patih keraton dan tidak boleh dimakamkan di Imogiri. Kedua, Sultan HB VII menceraikan istrinya BRA Retnomandoyo, yang merupakan ibu kandung Suryomentaram, dan ketiga, meninggalnya istri pertamanya RA Surtiadiwati.
Sejak tiga peristiwa itu, ia kabur dari keraton dan menyamar sebagai warga biasa. "Suryomentaram saat itu mempertanyakan tentang arti benda bagi hidup atau arti memiliki bagi manusia. Ki Ageng terus menjajaki dan mengobservasi raosing manungso (rasa manusia), tentang karep-karep (kehendak-kehendak), dan akibat-akibat dari karep (kehendak)," kata dia.
Titik terang pencarian mulai tampak pada 1927. Ia pun telah menemukan bagaimana hakikat hidup manusia sejatinya yang nantinya dirumuskan dalam ajaran kawruh jiwa. Ki Prasetyo Atmosudtidjo, putra dari Atmosudtidjo, kerabat Ki Ageng yang setia mendampingi hingga akhir hayat, mengungkapkan ajaran Ki Ageng awalnya ialah ilmu tentang kebahagiaan (kawruh begja). Alasannya, masa-masa tidak bahagia mendera saat terjadi tiga peristiwa berturut-turut. Namun, dalam perjalanannya, ia melahirkan pemikiran-pemikiran tentang kebangsaan, kenegaraan, dan kemerdekaan. Ajaran ilmu Ki Ageng Suryomentaram semakin luas dari kawruh begja menjadi kawruh jiwa atau ilmu tentang jiwa. (AT/N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved