Banjir di Padang Terjadi karena Curah Hujan Ekstrem

MI
20/6/2016 07:45
Banjir di Padang Terjadi karena Curah Hujan Ekstrem
(ANTARA/Iggoy el Fitra)

BANJIR besar yang melanda Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, Kamis (16/6)-Jumat (17/6), diklaim sebagai yang terbesar dalam 40 tahun terakhir. Banjir berlangsung 8-10 jam, dengan kedalaman genangan air mencapai 50-140 sentimeter.

"Banjir mengepung 19 kelurahan di 10 kecamatan. Ada 5.000 rumah terendam dan 2.000 warga harus mengungsi," papar Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatra Barat, R Pagar Negara, kemarin.

Banjir juga menyebabkan Risman, 63, warga kompleks Arai Pinang, tewas. Ia terpeleset saat mengungsi. "Banjir ini yang terbesar sejak 1974," kata Kepala Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Sumatra Barat, Suprapto.

Intensitas hujan yang sangat tinggi bahkan ekstrem menjadi penyebabnya. "Curah hujan mencapai 384 mm. Jumlah itu seharusnya untuk total 1 bulan, tapi ini turun dalam 1 hari," tambah Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Ketaping, Padang Pariaman, Budi Samiaji.

Ia menambahkan, hingga 20 Juni hujan masih akan turun di Sumbar, tapi dengan intensitas yang lebih rendah.

Banjir bandang akibat curah hujan yang tinggi juga terjadi di delapan desa di Kecamatan Batumandi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Akibatnya, belasan rumah rusak dan 165 rumah terendam banjir.

"Banjir bandang juga merobohkan tiga jembatan penghubung antardesa, fasilitas umum, dan tanggul pertanian. Tidak ada korban jiwa dan sebagian warga harus mengungsi," ungkap Kepala BPBD Balangan Alive Yusfa Love.

Kemarin, banjir akibat luapan Kali Kening melanda empat Kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Banjir membuat 40 keluarga harus mengungsi.

"Kami mulai melaksanakan program tanggap darurat dan berkoordinasi dengan sejumlah instansi. Bantuan untuk korban sudah langsung disalurkan," kata juru bicara Pemkab Tuban, Teguh Setyobudi.

Banjir di Tuban membuat Sujinah, 60, warga Desa Kedungjambangan, Bangilan, meninggal dunia. Dia mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan mengungsi.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, drainase yang buruk membuat sejumlah jalan raya digenangi banjir saat hujan, kemarin (Minggu, 19/6).

Hujan deras dan angin kencang diduga menjadi penyebab ribuan hektare tanaman padi tidak bisa dipanen karena gabahnya tidak berisi alias gabuk. Gabah gabuk dilaporkan terjadi di 11 desa di Kecamatan Kandanghaur. (YH/DY/YK/AD/UL/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya