15 Paus Mati di Pesisir Probolinggo

Abdus Syukur
19/6/2016 18:17
15 Paus Mati di Pesisir Probolinggo
(Antara/Zabur karuru)

PULUHAN paus jenis pilot terdampar di pantai Desa Pesisir, Kecamatan Gending, Probolinggo, Jawa Timu, Rabu (15/6). Dari diketahui sebanyak 12 mati dan lebih dari 20 ekor diselamatkan dikembalikan ke tengah lautan.

Setelah 12 ekor yang mati sudah dikuburkan pada Jumat (17/6) lalu, ternyata masih ditemukan tiga bangkai paus lagi. Ketiga ekor paus itu ditemukan tim penyelamat di hutan bakau atau mangrove di sekitar pinggiran pantai Desa Pesisir. Ketiganya tejebak akar dari pohon-pohon mangrove sejauh 50 meter dari bibir pantai.

"Berawal dari kecurigaan warga, karena merasakan bau menyengat dari arah pantai. Padahal jarak lokasi hutan mangrove sudah sekitar 1 kilometer, tapi bau busuk menyengatnya luar biasa. Ternyata memang ditemukan bangkai paus," ujar Serda Gimun Tim dari Koramil Gending, Minggu (19/6).

Ketiga bangkai paus itu ditemukan sudah dalam keadaan mulai membusuk. Kulitnya sudah sebagian mengelupas dan mengeluarkan bau busuk menyengat. Sebelumnya, 12 ekor ikan paus yang telsh mati telah dikuburkan petugas dan tim relawan yang terdiri dari, Pengawas Sumberdaya Kelautan Perikanan (PSKP), Balai Pengawasan Sumberdaya Pesisir Laut (BPSPL) Kementerian Kelautan dan Perikanan beserta Muspika dan warga.

Paus-paus itu dikubur di areal tambak Desa Pesisir Kecamatan Gending. Karena jumlahnya banyak dan kondisi tubuh mamalia air itu cukup besar dengan panjang sekitar 4 hingga 5 meteran dengan bobot yang cukup berat hingga mencapai 1-2 ton, penguburan menggunakan alat-alat berat.

"Kami mendatangkan alat berat agar lebih mudah dan lebih cepat. Kalau dikubur secara manual diping kesulitan, waktunya juga pasti lama dan bangkai akan segera membusuk," kata Kepala Desa Pesisir Sanemo.

Berdasarkan adat istiadat warga sekitar, proses penguburan mamalia ini dilakukan layaknya manusia. Dimana, sebelum dikubur atau ditimbun dengan tanah, tubuh paus pilot punggung pendek ini, dikafani dan ditaburi bunga.

"Sebelumnya ada mamalia yang seperti ini mati di desa ini, namun lebih kecil dan hanya satu. Waktu itu kami kubur layaknya manusia, karena begitulah adat disini," ujarnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya