Banjir Padang Disebabkan Drainase dan DAS Bermasalah

Yose Hendra
17/6/2016 19:52
Banjir Padang Disebabkan Drainase dan DAS Bermasalah
(ANTARA)

BANJIR hebat yang melanda Kota Padang, Sumatra Barat, sejak Kamis (16/6) petang hingga Jumat (17/6) ini, dinilai akademisi dan aktivis lingkungan setempat lantaran tatanan lingkungan dan tata kota serta saluran air (drainase) bermasalah. Bahkan kerusakan itu sudah sangat akut.

Direktur Eksekutif Walhi Sumbar Uslaini mengatakan, banjir yang melanda Padang dan Padang Pariaman, selain karena curah hujan yang tinggi, juga karena masifnya alih fungsi lahan terutama daerah resapan air.

Ia mencontohkan, kawasan Bypass dan Rawang yang merupakan daerah rawa-rawa, sekarang sudah disulap menjadi kawasan permukiman dengan ditandai perumahan yang tumbuh subur. "Belum persoalan dalam kota, drainase bermasalah. Drainase sudah banyak menyempit dan tersumbat, sehingga air yang mengalir dan turun terhambat," bilangnya.

Sementara bagian hulu, kawasan yang menjadi endapan air sudah banyak dieksploitasi. Uslaini menyontohkan, kawasan perbukitan Gunung Sariak yang dieskploitasi oleh penambang sehingga bukit tersebut semakin sumbing.

"Faktor utama banjir Padang karena daya dukung dan daya tampung lingkung sangat rendah," ujarnya.

Senada dengan Uslaini, Guru Besar Teknik Tanah dan Air Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas Isril Berd, menilai banjir hebat yang melanda Padang karena permukaan kawasan tidak mampu menampung volume air yang tinggi sebagai akibat curah hujan yang tinggi.

"Kalau volume besar mengalir dari hulu ke hilir, badan sungai tidak sanggup menampung air, tentu melimpah," ujarnya.

Dalam hal ini, Ketua Forum DAS Kota Padang ini menyebutkan, lima DAS yang ada di Kota Padang dalam keadaan kurang baik alias sudah mulai mengalami degradasi.

"Buktinya karena setiap hujan di kawasan hulu, air selalu keruh dan volume airnya cepat besar. Jadi tidak ada yang tertahan atau sedikit tertahan di hulu DAS," ujarnya.

Kelima DAS tersebut ialah DAS Kuranji, Aia Dingin, Timbalun, Batang Kandis, dan Batang Harau. Selain itu, dikatakannya, drainase di Kota Padang, tidak seimbang dengan volume air. Dicontohkan Isril, drainase kiri-kanan jalur bypass yang dimensinya kecil. Padahal, jalur tersebut melintasi daerah rawan banjir.

"Kita bisa maklumi Pemko memperbaiki dan memperlebar drainase terganjal anggaran dan pembebasan lahan yang payah. Namun, tentunya pihak perusahaan dan masyarakat tidak membuang limbah termasuk sampah secara sembarang," jelasnya.

"Pembersihan dan perawatan drainase kurang dilakukan. Mestinya PU melakukan hal tersebut," sambungnya.

Selain faktor tersebut, menurut Isril, banjir juga tidak terlepas dari anomali cuaca.

Sementara Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah mengatakan akan mengevaluasi pembenahan drainase dan saluran terkait banjir yang melanda Kota Padang. Pihaknya akan mengalokasikan anggaran untuk perbaikan drainase terutama untuk daerah pinggir laut dengan melakukan pelebaran dan pendalaman.

"Untuk program jangka panjang kita akan evaluasi dengan melakukan pembenahan drainase dan saluran pada 2017 dan 2018 mendatang," tandasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yunus S Swarinoto mengatakan potensi hujan deras masih terjadi hingga tiga hari ke depan di wilayah Indonesia.

Ia menjelaskan, dari tinjauan kondisi atmosfer terlihat beberapa indikasi yang menunjukkan munculnya potensi hujan deras di wilayah Indonesia. Kondisi masih hangatnya suhu muka laut di atas normal perairan Indonesia barat.

Selain itu, juga masuknya aliran massa udara basah dari Samudra Hindia di maritim kontinen Indonesia serta lemahnya aliran masa udara dingin Autralia di wilayah Indonesia, diperkirakan memberikan kontribusi pada peningkatan curah hujan.

Disamping itu, sambungnya, dengan adanya daerah pertemuan dan belokan angin di wilayah Sumatra dan Kalimantan mengakibatkan kondisi atmosfer menjadi tidak stabil sehingga meningkatkan potensi petir dan angin kencang.

"Untuk itu masyarakat diimbau agar meningkatkan kewaspadaan pada potensi bencana yang dapat ditimbulkan, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, genangan, dan pohon tumbang," tukasnya. (YH/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya