Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
NAMA kopi gunung puntang melambung saat transaksi kopi Indonesia digelar pada ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, 14-17 April lalu. Dalam lelang, kopi asal perkebunan rakyat di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat itu, dijual dengan nilai tertinggi. Phil Goodlayson dari Corvus Coffee, Denver, membelinya dengan harga tertinggi US$55 atau sekitar Rp750 ribu per kilogram. “Ini rekor terbaru lelang kopi asal Indonesia,” papar Atase Perdagangan Kedutaan Besar RI di Washington DC, Reza Pahlevi Chairul, dalam siaran persnya, pertengahan April lalu. Pada ajang itu, transaksi kopi Indonesia menghasilkan pundi US$35 juta, atau setara dengan 392 kontainer. “Seluruh 17 kopi pilihan yang dilelang habis terjual hanya dalam waktu 3 jam,” sebut Reza. Selain kopi gunung puntang, kopi spesial lain ialah mekar wangi, manggarai, malabar honey, atu lintang, toraja sapan, bluemoon organic, gayo organic, java cibeber, kopi catur washed, west java pasundan honey, arabica toraja, fl ores golewa, redelong, preanger weninggalih, flores ende, serta java temanggung.
Kopi Indonesia dipastikan akan terus mendapat tempat di hati para penyuka kopi di ‘Negeri Paman Sam’. Dalam pameran itu juga dijajaki untuk menggelar kegiatan SCAA Origin Trip ke Indonesia. Acara itu akan dijadikan sebagai momentum edukasi dan promosi kopi Indonesia untuk para roaster AS dengan petani dan supplier specialty coffee Indonesia. Kegiatan itu dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2016, bertepatan dengan pelaksanaan Trade Expo Indonesia ke-31. Merasa beruntung Kopi gunung puntang identik dengan Ayi Sutedja. Bersama dengan lima petani yang tergabung dalam Murbeng Puntang, Ayi menanam kopi jenis arabika. Tidak banyak kopi yang ditanam Ayi. Di atas lahan 1 hektare yang dia olah, pria jebolan IKIP Bandung itu baru bisa menanam 4.000 tegakan kopi.
Saat kopi produksi Murbeng Puntang dibeli dengan harga tertinggi di Amerika Serikat, April lalu, banyak importir yang datang langsung ke Banjaran. “Sekarang ini, kami yang jadi bingung. Kopinya tidak ada,” kata bapak empat anak itu. Titik balik kehidupan Ayi Sutedja terjadi pada 2011. Saat itu, ia disergap gamang, ketika bekerja pada sebuah perusahaan kelistrikan di Jakarta. Pria kelahiran Bandung itu ingin kembali ke gunung dan bertani. Maklum, sejak SMA, Ayi sudah menyukai kegiatan pencinta alam. Gunung Puntang menjadi salah satu favoritnya. Saat kembali, dia melihat Gunung Windu yang berada di selatan Gunung Puntang rusak akibat alih fungsi. Warga membabat tanaman keras dan menggantinya dengan kebun palawija. Ayi pun berpikir keras. Dia beruntung dipertemukan dengan Rahmat, 41, warga asli Gunung Puntang. Aki Mamat, panggilan lelaki itu, memberi motivasi kepadanya untuk melakukan konservasi di Gunung Puntang. Pada 2011 itu, Ayi ikut berpartisipasi mengembangkan manfaat hutan produksi Gunung Puntang bersama beberapa rekannya. “Awalnya saya tidak sengaja bercocok tanam kopi ini. Saya hanya ingin melestarikan kawasan hutan Gunung Puntang agar lestari,” ujar pria kelahiran 1965 itu. Perum Perhutani menjadi keberuntungan Ayi berikutnya. Dia membawa ide untuk menanam kopi di kawasan yang rusak. Perhutani menyambutnya. Lewat program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat, Ayi mendapat lahan sewa.
Setelah membentuk kelompok petani Murbeng Puntang, bantuan bibit kopi pun datang dari PT Olam, perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis. Lewat koperasi Sunda Hejo, perusahaan itu menyumbangkan bibit kopi varietas arabika. “Saya tidak akan melupakan jasa Sunda Hejo yang telah memberikan bibit kopi unggulan kepada kami,” lanjut Ayi. Dalam perjalanan, dia sempat menimba ilmu kopi dari sejumlah pakar kopi Indonesia, di antaranya Eko Purnomowidi, pendiri Classic Beans. Ayi juga bergabung dengan Sustainable Coffee Platform Indonesia (Scopi), salah satu asosiasi forum kopi nasional. Dari sana, kopi produksi kebunnya mulai dikenal. Pada November 2015 lalu, kopi gunung puntang berhasil menyabet juara pertama dan kedua di ajang Jakarta Indonesia Expo (JIE) yang diadakan Kementerian Perindustrian. Setelah ajang itu, kopinya diberangkatkan ke Atlanta. Hasilnya kopi gunung puntang terjual menjadi kopi yang termahal. Para ahli kopi alias Q grader dunia pun memberi nilai kopi gunung puntang 86,25.
Sapu hutan
Sampai saat ini, upaya Ayi melakukan konservasi hutan belum selesai. Banyak petani masih melakukan pola usaha secara asalasalan. Sekalipun menanam kopi, mereka belum bisa meninggalkan tanaman sayuran. “Banyak petani Gunung menjadikan kopi hanya sebagai tanaman pagar di samping sayuran. Hasilnya kopi produksi mereka kualitasnya biasa saja,” tutur Ayi. Itu berbeda dengan cara Ayi membesarkan tanaman kopinya. Dia tidak risih harus menyapu hutan, membersihkan gulma, demi sang kopi. “Saya sempat dikatakan gila karena menyapu hutan tempat tanam an kopi saya tumbuh. Tapi saya terus melakukannya karena ingin memberi contoh kepada mereka cara mengurus tanaman kopi yang baik dan benar,” lanjut suami Tati Ramhayati, 47, itu. Dalam menanam, Ayi punya prinsip bahwa tanaman yang baik akan tumbuh di lingkungan yang baik juga. Sama dengan manusia, anak akan tumbuh sehat dan kuat jika lingkungannya juga sehat. “Sama seperti manusia, tanaman tidak akan tumbuh baik di lingkung an yang kotor dan banyak hama,” jelasnya. Lima tahun setia kepada prinsipprinsip baiknya, Ayi layak memetik hasilnya. Cemooh berubah menjadi pujian. Kopi dan Puntang tidak hanya menghijaukan kawasan gunung. Ia juga mengharumkan kawasan itu lewat khas aroma kopi hingga ke belahan dunia nun jauh di sana. “Saya berharap akan lahir Ayi lain dari Gunung Puntang sehingga kopi daerah ini akan menjadi produk unggulan dan menjadi kebanggaan Indonesia,” tandas sang pionir. (N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved