Untung Kartel Petani Merugi

(Budi Mulia Setiawan/N-2)
15/6/2016 01:30
Untung Kartel Petani Merugi
(Budi Mulia Setiawan)

SETELAH April di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, kabar itu menyebar ke Australia. Harum kopi asal pegunungan selatan Bandung, Jawa Barat, memikat sejumlah pemodal asal Australia Selatan. Awal Juni lalu, mereka datang ke Bandung sebagai misi bisnis Australia ke Indonesia. ‘Mereka mengunjungi kafe Morning Glory di Bandung dan mencicipi kopi asal Jawa Barat java preanger coffee’, tulis Konsulat Jenderal RI di Sydney dalam siaran persnya. Di Bandung para calon investor tersebut juga mendapat penjelasan soal perkembangan industri kopi Jawa Barat serta varietasnya. Kopi java preanger berasal dari berbagai gunung di Jawa Barat.

Salah satunya berasal dari Gunung Puntang yang memenangi predikat kopi terbaik pada ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016, di Atlanta. Jawa Barat punya sejarah panjang soal kopi. Kopi masuk dan ditanam pertama kali di Tanah Pasundan pada 1696 oleh pengusaha Belanda. Pada 1711, kopi Priangan diekspor ke Eropa. Kini, Pemprov Jawa Barat mencatat luas tanaman kebun kopi di daerahnya mencapai 32 ribu hektare dengan produksi 22 ribu ton. Dari jumlah itu, 75% di antaranya diekspor. Hasilnya, selama periode 2012-2015, ekspor kopi green bean Jawa Barat mencapai 187,7 ton dengan nilai uang mencapai US$1,37 juta. Ekspor kopi olahan juga mencapai 150 ton dengan nilai US$7 juta.

Harga murah
Ketua Gabungan Petani Kopi Kebun dan Hutan Indonesia atau Gapekkhi, Thio Setiowekti, mengaku bangga kopi Jawa Barat sudah kesohor dan mendapat pengakuan banyak pihak. Hanya, di balik semua itu, ia juga menyimpan kekhawatiran. Menurut Thio, permasalahan perkopian di Jawa Barat sangatlah kompleks. Salah satunya, perdagangan kopi dikuasai kartel yang tidak prorakyat. “Kartel membuat harga buah cherry petik merah atau buah kopi yang baru dipetik sangat rendah,” jelasnya. Di dalam negeri, cherry petik merah hanya dihargai Rp5.000 per kilogram. Green bean atau bijih kopi kering Rp75 ribu dan biji kopi roasting Rp200 ribu.

Harga itu tergolong murah. Di pasaran dunia, green bean Indonesia bisa dihargai US$25 per kilogram. Karena kartel, petani kopi tidak mendapatkan keuntungan. Dengan rata-rata hanya memiliki 1 hektare lahan yang ditanami 1.000 batang, petani bisa memanen 2 ton kopi. Artinya, setiap tahun ia hanya bisa memanen hasil Rp10 juta. “Itu artinya, petani dengan 1 hektare lahan hanya bisa mendapat penghasilan Rp830 ribu per bulan. Angka itu jauh di bawah upah minimum Jawa
Barat,” tandas Thio. Apalagi, angka itu bukan keuntungan bersih. Petani masih harus mengeluarkan biaya untuk merawat tanaman.

Atas dasar keprihatinan terhadap nasib petani kopi inilah, Thio dan 200 petani kopi lain di Jawa Barat membentuk Gapekkhi. Organisasi itu diharapkan bisa memutus mata rantai perdagangan yang panjang, sekaligus melawan kartel kopi. “Kami ingin pembeli bisa langsung berhubungan dengan petani,” jelas Thio. Padahal, menjadi petani kopi butuh totalitas. Seperti diungkapkan Ayi Sutedja, bapak kopi gunung puntang, tanaman kopi membutuhkan perhatian sangat khusus.

“Sama dengan anggur, kopi harus diperlakukan dengan baik sejak ditanam, proses panen, hingga pengeringan. Kopi adalah tanaman yang unik, lingkungan di sekitar pohon akan memengaruhi kopi yang dihasilkan,” ujarnya. Kopi bukan sekadar tanaman. Petani harus menjadikannya sebagai mitra. “Setelah 2,5 tahun kita merawat dan mengurusnya dengan cinta, hasilnya sudah bisa dirasakan. Dia memberikan kita hasil panen dengan kualitas yang baik,” tandas Ayi. (Budi Mulia Setiawan/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya