Kawruh Jiwa Belajar Mengenal Diri Sendiri

Ardi Teristi Hardi
15/6/2016 01:20
Kawruh Jiwa Belajar Mengenal Diri Sendiri
(Dok MI)

TAHUN lalu saat Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengadakan pemilihan kepala daerah, datanglah sekelompok orang ke Dusun Balong, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon. Sekelompok orang itu merupakan tim sukses salah satu calon kepala daerah. Mereka menawari bantuan pembuatan Masjid An Nur di dusun tersebut. "Katanya mau membantu pembangunan masjid asal memilih jagoan mereka," ujar Sumar Al Gino, tokoh masyarakat Dusun Balong, saat menjelaskan keunikan desanya yang memegang filosofi kawruh jiwa ajaran Ki Ageng Suryomentaram. Ki Ageng Suryomentaram ialah putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Ia pernah singgah ke Dusun Balong dan memberikan wejangan tentang kawruh jiwa, yang kini telah dibukukan menjadi 30 jilid.

Warga menolak tawaran tim sukses tersebut. Untuk pembangunan dan renovasi masjid, warga Dusun Balong tidak mengandalkan bantuan luar. Justru seluruh warga secara bersama-sama menyumbangkan apa yang mereka miliki. Dengan sukarela warga menyumbangkan uang, tenaga, bahan bangunan, dan lainnya. "Berapa lamanya pembangunan atau renovasi tidak menjadi masalah. Pokoknya sesuai kemampuan warga dusun," tambahnya. Gotong royong itu juga berlaku untuk kegiatan apa pun yang membutuhkan bantuan seluruh warga dusun seperti pentas kesenian, hajatan, termasuk mendidik anak.

Bagi masyarakat Dusun Balong, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar. Sebagaimana pendidikan anak di negara maju, masyarakat di Dusun Balong pun tidak ketinggalan dalam mendidik anak. Masyarakat dusun sudah sejak dahulu kala menerapkan kejujuran, ketulusan, ketenangan, kedamaian, kasih sayang, dan kejernihan berpikir dalam kehidupan sehari-hari. Sumar Al Gino memamparkan, agar dapat menerapkan hal-hal baik tersebut di dusunnya, orangtua harus mampu memberi contoh perilaku kepada anak-anak atau yang lebih muda. "Cara mengasuh dan mendidik anak tidak perlu dipaksakan. Cukup lewat isyarat. Orangtua tidak perlu berbicara keras, tetapi cukup melakukan kegiatan sehari-hari, yang bisa dicontoh," ujar pria yang akrab dipanggil Gino itu.

Dalam ajaran kawruh jiwa, anak-anak dididik untuk mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada orangtua. Sebaliknya, orangtua jangan berpikiran akan menggantungkan hidupnya hingga tua kepada anaknya. Menurut pria yang baru mendalami ajaran kawruh jiwa sejak 2006 itu, yang terpenting dalam mendidik anak ialah anak harus bisa mandiri. Ia mencontohkan saat anak meminta dibelikan sepeda motor kepada orangtua, sikap orangtua jangan langsung menolak atau mengabulkannya.

Anak harus diajak berpikir logis tentang permintaan tersebut. "Kita ajak bicara baik-baik dan diajak berpikir. Tanyakan apa kegunaan motor? Apa tujuannya membeli sepeda motor. Apakah untuk membantu mencapai tujuan atau hanya gaya-gayaan? Apakah harus menggunakan sepeda motor untuk sampai sekolah dan sebagainya," papar Gino. Pada intinya, lanjut Gino, dalam mendidik anak tidak boleh dipaksakan atau disakiti. "Kalau semua dipaksakan atau disakiti anak itu, suatu saat anak bisa berani kepada orangtuanya sendiri," sarannya.
\
Bagi peneliti kawruh jiwa Ryan Sugiarto, yang dilakukan Gino dan warga Dusun Valong merupakan cara melatih anak mengenali diri. Dia menyebutkan Ki Ageng Suryomentaram pernah menyebut belajar mengenali diri sendiri diawali dari diri sendiri. "Yaitu dengan cara mengetahui keinginan, tindakan, pikiran, dan perasaan. Belajar mengenali diri sendiri penting untuk menuju jalan berpikir dan bertindak dengan benar, memahami hakikat jiwa manusia," jelas Ryan.
Istilah Ki Ageng Suryomentaram, dialog orangtua dan anak disebut kandha-takon. Cara itu, lanjut Ryan, merupakan proses pengelolaan pengetahuan dan pengalaman ke dalam pengetahuan bersama.

Pendapat serupa dikemukakan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Siti Waringah. Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama tempat anak bergaul setelah dilahirkan. Pendidikan keluarga akan membentuk karakter dan sifat anak. "Nah anak dalam konsep kawruh jiwa ini merupakan pribadi yang mempunyai rasa sehingga dalam mendidik anak, orangtua juga harus paham dengan yang dirasakan anak," jelas Siti. Artinya pendidikan yang diberikan kepada anak pada dasarnya memperhatikan kebutuhan anak, bukan kebutuhan orangtua. "Yang diingatkan Ki Ageng Suryomentaram ialah bagaimana kita menempatkan diri sebagai orangtua yang punya rasa sebagai anak. Pengalaman sebagai anak dan pengalaman sebagai orangtua," kata dia.

Jangan dipaksakan
Prasetyo Admosutidjo, putra kakak sepupu Ki Ageng Suryomentaram yang kini menjadi juru catat, menambahkan orangtua harus mengenali bakat dan keinginan anak. "Artinya anak jangan diperas untuk mencari keunggulan nama keluarga. Atau dalam ajaran Ki Ageng disebut raos mlenet (menekan anak). Kalau sampai terpeleset atau tidak sesuai harapan, orangtua bisa benci dengan anak," kata dia.

Dia mencontohkan bagaimana orangtua sangat berharap anaknya tidak mendapat nilai buruk, termasuk saat ujian nasional orangtua pun ikut membantu mencari bocoran jawaban soal karena khawatir anak tidak lulus. Tindakan itu berdampak membebani anak dan menghasilkan pola pendidikan tidak bertanggung jawab. Anak menjadi takut tidak bisa memenuhi harapan orangtua.

Ajaran kawruh jiwa yang sudah dilupakan masyarakat diharapkan bisa dihidupkan kembali. Ajaran tersebut tidak hanya milik warga Dusun Balong, tapi sebisa mungkin di seluruh Indonesia. Demikian harapan Guru Besar Psikologi UGM Prof Kuncoro dalam menanggapi ajaran yang sudah dipraktikkan turun-temurun warga Dusun Balong. Menurutnya, ajaran kawruh jiwa sangat cocok untuk pendidikan karakter anak Indonesia karena berdasarkan pandangan-pandangan lokal. "Berbeda dengan pandangan masyarakat Barat bahwa kehidupan adalah yang terjadi saat ini sehingga membuat orang berpikir pragmatis dan materialistis," ujar Kuncoro. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya