Unik, Kereta Gantung Bantu Petani Sayuran di Lembang

Depi Gunawan
14/6/2016 18:59
Unik, Kereta Gantung Bantu Petani Sayuran di Lembang
(youtube.com)

PETANI Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, punya cara unik untuk mengangkut hasil pertanian mereka, yakni dengan menggunakan kereta gantung.

Karakteristik geografi Desa Suntenjaya dengan daerah perbukitan yang curam dan tingkat elevasi tanah yang tinggi menjadi tantangan bagi petani saat mengangkut hasil pertanian dari lembah ke atas bukit.

Namun, berkat 'Sasak Apung Padjadjaran' yang dibangun dua tahun lalu, petani setempat tidak lagi menggunakan cara tradisional yakni dipanggul untuk membawa hasil pertanian mereka. Awal mula pembangunan kereta gantung ini atas prakarsa mantan Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia saat melakukan monitoring ke daerah tersebut.

Penanggung Jawab Sasak Apung Padjadjaran, Ulus Pirmawan, mengatakan, ide pembuatan alat angkutan modern hasil pertanian itu berawal pada 2014 lalu saat mahasiswa dan dosen Unpad yang magang di Desa Suntenjaya menyempatkan diri meninjau aktivitas petani di Kampung Gandok. Mereka merasa iba saat melihat petani harus memikul hasil pertanian yang beratnya bisa mencapai 100 kg.

"Sebelum alat ini ada, petani harus menempuh jarak sejauh 400 meter dengan medan yang sangat terjal serta kondisi lahan pertanian yang berada di bukit, ditambah dengan akses jalan yang masih tanah dan sempit mengakibatkan hasil pertanian lama sampai tiba di pasar," ungkap Ulus, Selasa (14/6).

Masih di 2014, tim yang terdiri atas beberapa dosen Unpad tersebut kemudian melakukan riset pembuatan alat, termasuk di antaranya mengukur kapasitas, kondisi tanah, hingga kedalaman pasak tiang penyangga.

"Rektor Unpad langsung meninjau ke sini, setelah satu bulan disurvei kemudian langsung dibuatkan. Semua biayanya dari Unpad," terangnya.

Bagian-bagian kereta gantung pengangkut sayuran ini terdiri atas motor penggerak, kabin, tiang penyangga, tali pengangkut dari kawat baja serta tempat kendali dan alat komunikasi. Kawat baja dibentangkan sejauh 270 meter dengan ketinggian dari dasar tanah mencapai 50 meter.

Untuk sekali jalan, alat ini mampu menahan beban sampai 300 kg dan hanya menghabiskan waktu perjalanan kurang dari 5 menit. "Kalau dulu sebelum alat ini ada, pengangkutan dilakukan buruh angkut yang memakan waktu sampai 30 menit, bisa tambah lama karena orang yang mengangkutnya harus istirahat dulu, bayarannya Rp400/kg untuk sekali angkut," tuturnya.

Setiap harinya, berbagai macam hasil sayuran seperti tomat, kol, cabai, brokoli, buncis, terong, dan lain-lainnya diangkut menggunakan alat tersebut. Sampai dua tahun dioperasikan, belum pernah ada orang atau sayuran yang terjatuh ke dasar tanah. Yang masih jadi kendala ialah matinya aliran listrik.

"Sehari bisa mengangkut sampai 1 ton sayuran, pupuk juga. Daya listriknya awet, pulsa listrik Rp100 ribu bisa cukup untuk 20 hari," bebernya.

Diakui Ulus, daerah pegunungan di Desa Suntenjaya, aktivitas pengangkutan barang masih banyak dilakukan oleh tenaga manusia secara keseluruhan meski jalan yang ditempuh sulit dilalui. Oleh karena itu, keberadaan kereta gantung pengangkut sayuran ini manfaatnya sangat dirasakan karena dapat membantu kerja manusia.

Selain dapat mengangkut hasil pertanian, Sasak Apung Padjadjaran ini juga dapat mengantarkan petani dan bisa disewakan kepada wisatawan. Tiap kali pengangkutan sayuran dipatok tarif Rp100/kg, pupuk kandang Rp1.000/kg, petani Rp2.000/orang, dan wisatawan Rp 10.000/orang.

"Hasil retribusi per bulan akan digunakan untuk gaji operator, sewa kepada pemilik lahan yang digunakan untuk tiang pancang dan penyimpanan barang, pembelian token pulsa listrik, dan perawatan alat," katanya.

Ke depan, Ulus memimpikan Desa Suntenjaya khususnya Kampung Gandok bisa dijadikan daerah wisata. Secara bertahap, dengan keuntungan yang didapat dari penyewaan Sasak Apung Padjadjaran akan disisihkan untuk pembangunan sarana prasarana seperti jalan raya.

"Di sekitar sini ada lokasi wisata air terjun dan Bukit Batu Kereta yang sampai sekarang belum terjamah wisatawan. Kita juga memimpikan kampung ini dikunjungi anak SD agar mereka dilatih kemudian tertarik bertani, karena tak dimungkiri jika generasi muda sekarang jarang yang mau jadi petani," tandas Ulus. (DG/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya