Bulog Siap Serap Cabai

MI/Benny Bestiandy
30/6/2015 00:00
Bulog Siap Serap Cabai
(MI/ROMMY PUJIANTO)
KEMENTERIAN Pertanian melakukan terobosan untuk memutus mata rantai distribusi yang panjang pada komoditas cabai. Kementan pun menggandeng Bulog untuk menyerap cabai merah dari petani.

Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono menegaskan hal itu saat menghadiri panen raya cabai merah di Kampung Warnasari, Desa Perbawati, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kemarin.

Saat ini harga jual cabai merah dari tingkat petani sebesar Rp13 ribu per kilogram. Adapun, di pasaran bisa mencapai Rp30 ribu per kilogram.

"Kondisi itu karena panjangnya mata rantai distribusi sehingga harga di pasaran cukup tinggi jika dibandingkan dengan di tingkat petani," terangnya.

Peraturan Presiden Nomor 71/2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Harga Kebutuhan Pokok dan Barang Penting sebetulnya mengatur soal harga pangan.

Dalam ketentuan tersebut diatur mengenai harga terendah dan tertinggi bahan pangan yang penting khususnya menjelang hari besar.

Direktur Pelayanan Publik Bulog, Wahyu Suparyono yang turut hadir dalam acara itu menambahkan, penyerapan komoditas cabai ini agar harga di tingkat konsumen stabil. "Harga beli akan disesuaikan dengan harga saat ini, yakni Rp13 ribu per kg. Namun, untuk menjual kembali cabai merah tersebut, Bulog akan menetapkan harga berbeda untuk pengganti ongkos transportasi," jelas Wahyu.

Beras mahal
Sementara itu, harga bahan pangan pokok beras di pasar tradisional Jawa Timur masih mahal. Beras kelas medium IR 64 kualitas super dijual dengan harga Rp9.500 per kg. Tingginya harga beras karena pasokan komoditas itu di pasaran makin menipis.

"Ini musim kemarau, harga beras masih mahal. Beras IR 64 kualitas biasa masih stabil di kisaran harga Rp7.800 per kg, sedangkan beras kualitas medium Rp8.000 per kg. Adapun, yang kualitas super Rp8.300 per kg," kata Mustakim, pedagang beras di Pasar Besar Bojonegoro, Jawa Timur, kemarin.

Tingginya harga beras karena petani sudah melewati masa panen. Pasokan beras pun menipis sejak sebulan ini. Saat ini para petani di Bojonegoro mulai memasuki musim tanam padi gadu. Lahan yang ditanami merupakan lahan sawah produktif. Adapun, lahan tadah hujan mulai kekeringan.

Di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) setempat menggelar sidak ke pasar dan beberapa distributor beras, kemarin.

Kepala Dinas Disperindagkop Provinsi Bangka Belitung Yuliswan mengatakan harga bahan kebutuhan pokok dan beras di tingkat pengecer masih stabil. "Semua barang stabil kecuali minyak goreng dan telur," ujarnya.

Ekowari mengatakan, dalam penyelenggaraan pasar murah, pihaknya menggandeng tiga distributor bahan makanan. Ketiganya adalah UD Mapan untuk pengadaan beras, Surya Swalayan untuk pengadaan komoditas tepung gandum, minyak, gula pasir, dan sirup. Serta para peternak di tiap kecematan untuk pengadaan telur. Kegiatan ini juga melibatkan ibu-ibu PKK di tiap kecamatan.

Pada bagian lain, Disperindagkop Provinsi Babel menemukan beras organik merek Riso Soil, yang diduga mengandung bahan berbahaya. Polda Metro Jaya sebelumnya menangkap pelaku pemalsu beras yang mencampurnya dengan bahan berbahaya.

Adapun, di Klaten, Jawa Tengah, aparat Satreskrim Polres Klaten, Jawa Tengah, menangkap Siswanto warga Desa Jogosetran, yang menjual merica palsu, sekaligus menyita 25 kg merica palsu. (YK/RF/TS/JS/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya