Percepat Amenitas, Mandeh bakal Jadi KEK Pariwisata

10/6/2016 21:09
Percepat Amenitas, Mandeh bakal Jadi KEK Pariwisata
(ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

PROVINSI Sumatra Barat tidak lama lagi akan bersaing di bidang Pariwisata. Itu setelah Gubernur Irwan Prayitno memastikan daerahnya sebagai 'halal destination'. Selain itu, atraksi alam dan budayanya pun memenuhi syarat sebagai daerah tujuan wisata yang komplet. Memiliki gunung, pantai, persawahan, danau, kota di dataran tinggi, dan tentunya mempunyai akar budaya yang kuat.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan 10 Bali Baru Hiramsyah Sambudhy Thaib menyebutkan bahwa kawasan Mandeh, Pesisir Selatan, Sumbar, akan segera dikebut. Hal itu dipastikan setelah Gubernur Irwan menetapkan Mandeh sebagai sentra pariwisata di Sumbar.

"Sekitar 400 hektare di Mandeh akan dibangun pusat amenitas, seperti hotel, convention hall, restoran, kafe, dan fasilitas lainnya," kata Hiram optimistis.

Kawasan Mandeh itu terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan, berbatas langsung dengan Kota Padang. Pada 2017 mendatang, area itu ditargetkan menjadi salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, seperti melihat Nusa Dua di Bali, saat ini.

"Dulu, Nusa Dua itu dikenal jauh dari Denpasar, jauh dari keramaian Kuta, dan minim fasilitas publik. Sekarang, Nusa Dua sudah punya kelas dan menjadi pusat convention,” jelas Hiram dalam keterangan tertulis kepada media, Jumat (10/6).

Menurut Hiram, yang juga Mantan Ketua Asosiasi Kawasan Pariwisata Indonesia 2002 itu, dampak KEK bagi perekonomian sangat signifikan. Kawasan Mandeh kelak bisa jadi akan menjadi motor penggerak pertumbuhan industri di Sumbar.

"Areal 400 hektare itu akan diajukan sebagai KEK Pariwisata, tapi yang terpengaruh oleh KEK itu adalah seluruh Sumbar. Impact-nya jauh lebih besar dari 400 hektare itu," jelasnya.

Mandeh berjarak 56 km dari Kota Padang. Hiram sependapat dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya, yang menempatkan Mandeh sebagai 'Raja Ampat'-nya Sumatra. Kekuatannya ada di bahari, wisata laut, pantai, dan bawah laut. Jadi, orang Jakarta pun tidak mesti jauh-jauh ke Raja Ampat, jika di Sumatra juga ada. Pasti akan lebih murah dan menarik banyak orang.

"Karena itu, kawasan seluas 18.000 hektare itu harus dioptimalkan untuk pariwisata," kata dia. "Sekarang pun sebenarnya Mandeh sudah menjadi objek wisata. Sudah ada jetski, snorkling, dan diving spot-nya, tapi karena masih belum dioptimalkan, saat ini Mandeh belum bisa dijadikan sebagai destinasi wisata utama, maka dari itu perlunya dilakukan pembangunan ini," jelas Hiramsyah. (RO/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya