Abu Vulkanik Kerinci Mengguyur Solok Selatan

Yose Hendra
07/6/2016 20:26
Abu Vulkanik Kerinci Mengguyur Solok Selatan
(Dok. MI)

AKTIVITAS Gunung Kerinci terus meningkat pascagempa 6,5 SR pada 2 Juni 2016 yang berpusat di Pesisir Selatan. Bahkan, abu vulkanik yang lahir dari erupsinya, menyebar hingga Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat.

"Sekitar pukul 14.00 WIB tadi, abu vulkanik Gunung Kerinci sampai ke Ibu Kota Solok Selatan, Padang Aro. Abunya terlihat di atas kantor Bupati. Juga berjejak di mobil," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan Dalwison, Selasa (7/6).

Menurutnya, ini merupakan kali kedua dalam sepekan terakhir wilayah Solok Selatan diguyur abu vulkanik. Sebelumnya, sebut Dalwison, pada 3 Juni lalu, abu vulkanik dari Gunung Kerinci juga berjejak di Solok Selatan.

Padang Aro berjarak sekitar 30 kilometer dari gunung yang terletaknya antara perbatasan Sumatra Barat dan Jambi. Sehingga dianggap berada di luar zona merah, yang dikatakan beradius 3 kilometer dari bibir kawah.

"Yang terdekat adalah daerah Bangun Rejo, itu pun jaraknya mencapai 10 kilometer," tukasnya.

Sebaran abu vulkanik Kerinci, kata Dalwison, menganggu pengendara bermotor saat di jalan. Namun secara umum, masih aman karena abunya tipis.

Ia mengaku telah berkomunikasi secara intensif dengan penjaga pos Gunung Kerinci. Dari hasil komunikasi, didapati Gunung Kerinci masih berstatus waspada. Dengan kondisi demikian, pihaknya belum melakukan tindakan evakuasi, termasuk pemberian masker.

"BPBD Solok Selatan sifatnya menindaklanjuti PVBMG," tukasnya.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Kerinci Indra Saputra mengatakan, gunung aktif dengan ketinggian 3.805 mdpl tersebut mengeluarkan asap kelabu setinggi 800 meter dari kawah sejak Senin (6/6) kemarin. Sebelumnya, kepulan asap di sekitar gunung dengan ketinggian asap sekitar 400 hingga 500 meter.

Menurutnya, asap mengarah ke barat laut dan utara. Asap tersebut condong mengarah ke barat laut dan utara. Data pada pos pengamatan Gunung Kerinci Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan dengan tremor dan amplitudo 0,5-5 milimeter, tetapi dominan 1 mm.
Kemudian tektonik jauh sebanyak satu kali.

"Semburan abu vulkanik Gunung Kerinci masih, tapi kecil," ujar Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, beberapa waktu lalu.

Mengenai korelasi gempa Pesisir Selatan dengan aktivitas erupsi Gunung Kerinci, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, untuk memahaminya harus dimengerti kondisi tektonik regional serta konsep hubungan stres-strain pascagempa hingga terbentuknya tekanan di dapur magma.

Dijelaskannya, Gunung Kerinci terletak di zona Sesar Sumatra dan relatif dekat denga zona subduksi lempeng. Karena terletak di zona tektonik aktif, secara geologis, terbentukya Gunung Kerinci tidak lepas dari proses tektonovolkanik di zona tersebut. Sehingga, kondisi fisiografi, seismisitas, dan vulkanisme setempat sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan Lempeng IndoAustralia dengan Lempeng Eurasia.

"Kondisi ini menjadikan zona barat Sumatra sebagai salah satu kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan dan gunungapi yang tinggi di Indonesia," ujarnya.

Ditambahkan Daryono, jika aktivitas gunung api sebagai bagian dari rangkaian aktivitas subduksi lempeng, meningkatya aktivitas Gunung Kerinci saat ini tidak lepas dari aktivitas seismik dan dinamika tektonik regional yang sedang aktif akhir-akhir ini.

"Jika mengamati peta sebaran gunung api, tampak bahwa seluruh jalur gunung api letaknya berdampingan dengan jalur gempa bumi," tukasnya.

Secara tektonovolkanik, gempa bumi kuat memang dapat mengaktifkan erupsi gunung api. Aktifnya gunung api berkaitan dengan dinamika tektonik di sekitar kantung magma. Dalam hal ini peristiwa gempa bumi besar dapat memicu aliran magma ke dalam kantung magma.

Akumulasi tegangan litosfer yang berlangsung di sekitar gunung api juga dapat memicu erupsi gunung api. Dalam hal ini stres-strain akibat gempa bumi kuat mampu menekan cebakan magma. Sehingga aktifnya gunung api dapat dimulai ketika berlangsung induksi perambatan stress-strain saat terjadi gempabumi. Dalam hal ini gempa bumi kuat yang terjadi dekat dengan gunung api dapat memicu naiknya magma dari dalam bumi ke kantung magma.

Lebih jauh ia menjelaskan, teori lain juga menjelaskan, bahwa aktivitas gempa bumi dekat gunung api mampu mengubah tekanan gas dapur magma. Fenomena ini dapat dianalogikan seperti sebuah botol minuman soda yang dikocok hingga timbul gelembung-gelembung gas yang kemudian bergerak naik, selajutnya menekan dan melepaskan sumbatan hingga terjadi letupan keras.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatra Barat Ade Edward, Sabtu (4/6), debu vulkanik yang dikeluarkan Gunung Kerinci semalam terpicu gempa di Pesisir Selatan 2 Juni lalu.

"Ini sama dengan letusan Gunung Talang pada 2005 yang terpicu gempa di laut dekat Siberut, Mentawai. Gunung api sepanjang ring of fire berkorelasi dengan tatanan tektonik zona subduksi," jelas Ade.

Gunung Kerinci terletak di zona patahan Sumatra. Begitu pun halnya dengan Gunung Talang. Sementara gempa Pesisir Selatan kemarin episentrumnya berada di zona subduksi atau Sunda Trench. "Gunung api volkano tektonik bagian dari sistem zona subduksi Sunda Trench," ujarnya. (YH/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya