Jalur Penghubung Pantura Daendels Rusak Parah

M Yakub
07/6/2016 19:21
Jalur Penghubung Pantura Daendels Rusak Parah
(dok mtvn)

JALUR alternatif penghubung ruas Daendels di kawasan pantai utara (Pantura) dengan jalur tengah nasional di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, masih mengalami kerusakan, Selasa (7/6) siang.

Selain berlubang, banyak badan jalan yang bergelombang belum diperbaiki. Jalur alternatif sepanjang 35 kilometer juga hanya ditambal sulam. Kerusakan jalur alternatif juga diperparah dengan banyaknya kendaraan bertonase tinggi melintas jalur ini. Terutama, pascaditutupnya jembatan Sembayat di Kecamatan Sidayu, Gresik, akibat adanya perbaikan setahun terakhir.

Pantauan Media Indonesia menunjukkan, sejumlah ruas jalan penghubung antara Kecamatan Sukodadi-Kecamatan Paciran masih mengalami kerusakan di sejumlah titik. Di antaranya, pada titik Desa Sungai Lebak, Pucangro, dan sejumlah titik di Desa/Kecamatan Karanggeneng. Pada kawasan ini, banyak terjadi rekahan dan lubang. Bahkan, beberapa titik ruas jalur ini menyempit dan bergelombang.

Kondisi serupa juga terjadi pada titik ruas jalan di utara Jembatan Karangeneng. Pada titik ini, kondisi jalan bergelombang dan banyak terdapat lubang selebar 30-50 centimeter dengan kedalaman sekitar 15 cm. Terutama, pada titik Pasar Kliwon hingga Desa Sawo, Kecamatan Solokuro sepanjang hampir 2 kilometer.

Sementara, pada titik Desa Petiyin ruas jalan mulai dilebarkan pada sisi barat jalan sekitar 1 meter. Dengan pelebaran ini, pengguna jalan harus lebih waspada saat melintas sepanjang jalur tersebut. Sebab, terdapat lubang sedalam 60 cm dengan lebar 1 meter pada bahu jalan. Oleh warga sekitar, lubang pada jalan itu ditambal dengan material seadanya. Di antaranya dengan tanah dan sampah. Hal ini agar tidak menimbulkan kecelakaan lalu lintas.

"Kalau nggak hati-hati bisa terperosok jatuh Mas," terang Supri, warga setempat.

Sedangkan, pada titik Desa Petiyin ada pelebaran jalan. Perbaikan jalan tersebut baru dimulai sekitar sepekan terakhir. Pada siang hari, ada pekerja yang mengatur jalan, tetapi pada saat malam hari kondisi jalan menjadi gelap karena minimnya penerangan jalan. Hal inilah yang menjadikan jalur tersebut rawan terjadi kecelakaan.
Pada titik selanjutnya, utara Desa Petiyin hingga Desa Takeran sudah lebar. Namun, konstruksi jalan cor itu banyak terjadi rekahan dan hanya ditambal aspal. Sedangkan, pada titik Desa Banyubang hingga Desa Dagan, Kecamatan Solokuro, juga terpantau ada sejumlah kerusakan.

Kerusakan terparah terjadi pada titik tengah hutan utara Desa Dagan. Pada titik ini, banyak jalan berlubang dan gelombang. Bahkan, beberapa lubang jalan ada yang panjangnya satu meter lebih. Pada ruas ini, jalan cepat mengalami kerusakkan karena banyak faktor. Selain dilintasi kendaraan berat pascaditutupnya Jembatan Sembayat setahun silam.

"Jalan cepat rusak, lha truk besar banyak lewat sini," terang Yudi, warga Kecamatan Solokuro.

Menurut dia, memintasnya ratusan kendaraan bertonase tinggi yang memicu jalan kelas III ini cepat rusak. Tak hanya itu, ratusan bus besar pariwisata juga sering melintas jalan tersebut. Terutama, setelah jembatan Sembayat di Kecamatan Sidayu, Gresik, ditutup setahun silam.

Kerusakan jalan, lanjut dia, juga terjadi pada titik Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran. Terutama, mulai dari hutan di kawasan selatan desa hingga beberapa titik di desa setempat. Selain itu, kerusakan jalan juga diperparah dengan banyaknya truk bertonase besar yang mengangkut hasil tambang galian C di Bukit Drajat.

Warga berharap, pemerintah melakukan perbaikan dengan serius jalur alternatif tersebut. Sebab, selain jalan pengurai kemacetan pada jalur nasional, jalan sepanjang 35 kilometer ini juga tergolong penting bagi akses masuk menuju sejumlah lokasi wisata sepanjang pantura setempat. Baik itu wisata umum hingga sejumlah obyek wisata religi. (YK/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya