KEMENTERIAN Pertanian melarang impor sejumlah komoditas yang banyak dihasilkan di Tanah Air sejak dua pekan terakhir. Impor dinilai berdampak buruk terhadap perkembangan sektor pertanian.
Selain itu, Kementan juga menjamin komoditas pangan aman dan stabil hingga Lebaran mendatang. "Impor membawa dampak yang luar biasa, yakni melemahkan kemampuan petani kita. Oleh karenanya, mulai minggu ini kita dengan tegas menyampaikan adanya larangan impor untuk komoditas yang ternyata bisa dihasilkan oleh sektor pertanian kita," ungkap Menteri Pertanian Republik Indonesia (RI) Andi Amran Sulaiman saat berdialog dengan petani di Bojonegoro, Jawa Timur, kemarin.
Sejak dua minggu ini, kata dia, keran impor telah ditutup. Alasannya, impor ternyata bukan solusi yang tepat. Pasalnya, impor membawa dampak negatif untuk perkembangan sektor pertanian.
Menteri juga menjelaskan kelangkaan bawang merah dan cabai beberapa waktu lalu bisa diatasi dengan operasi pasar dan turun langsung ke lapangan. Khususnya, di daerah penghasil komoditas itu.
Apalagi, di daerah penghasil bawang dan cabai, harga komoditas itu rendah. Misalnya, di Bima, Nusa Tenggara Timur, harga bawang merah hanya Rp6 ribu per kilogram (kg). Namun, saat di kota, harga bisa mencapai Rp30 ribu-Rp40 ribu per kg. Dengan fakta itu, pihaknya menggelar operasi pasar dan kini harga bawang merah kembali stabil di kisaran Rp18 ribu-Rp20 ribu per kg.
Demikian pula untuk cabai. Di Kabupaten Malang, Jatim, harganya di tingkat petani hanya Rp10 ribu per kg, tapi di pasaran harga bisa menjadi berkali lipat. "Jika keran impor dibuka, nasib petani kita yang akan menderita," tambahnya.
Selain menutup keran impor, Mentan dengan tegas menyampaikan harga komoditas pangan sampai dengan Lebaran mendatang akan dijamin aman dan stabil.
Stok aman Di bagian lain, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo memastikan stok kebutuhan pokok untuk Ramadan hingga Lebaran di provinsi setempat aman. Hanya, memang ada kenaikan sejumlah kebutuhan, tapi masih dalam taraf wajar.
"Kami memastikan kalau stok kebutuhan pokok di Jateng aman untuk menghadapi Ramadan hingga Lebaran mendatang. Jadi, warga tidak perlu khawatir dan Pemprov terus menjalin komunikasi dengan pemkab dan instansi terkait untuk memastikan tidak terjadi kelangkaan di tingkat masyarakat," ujarnya saat meninjau Pasar Wage, Purwokerto Jateng, kemarin.
Ganjar menyebutkan, dari hasil pemantauan yang dilakukannya, harga kebutuhan pokok yang meningkat di antaranya telur dan ayam. "Namun demikian, harganya masih tetap terjangkau. Kalauuntuk stok masih aman, apalagi ada yang masuk dari Jatim dan Jabar. Kami pastikan hingga Lebaran tidak ada kelangkaan," katanya.
Mengenai elpiji 3 kilogram (kg), Gubernur mengungkapkan setiap hari pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Pertamina untuk memastikan tidak ada kelangkaan gas 3 kg. "Saat ini, Pertamina Jateng menambah outlet di SPBU-SPBU agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan gas 3 kg. Kalau nantinya memang ada kelangkaan, bakal digelar operasi pasar (OP). Lewat media sosial, saya membuka laporan-laporan dari masyarakat sehingga nantinya dapat secara cepat ditindaklanjuti," ujar Gubernur.
Di sisi lain, akibat jauh dari perkotaan dan akses hanya melalui pesawat, di sebuah distrik di Moskona Timur, Kabupaten Bintuni, Papua Barat, sejumlah harga sembako melambung, seperti beras mencapai Rp1 juta per karung. Selain itu, harga gula Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per/kg, minyak goreng Rp100 ribu/liter, dan minyak tanah Rp100 ribu/liter.
Harga-harga tersebut melambung karena akses jalan dari Distrik Moskona Timur ke Moskona Utara dari Kabupaten Bintuni belum ada. Barang-barang sembako itu harus diangkut via pesawat dengan biaya yang mahal. (LD/MS/N-1)