Seekor Anak Gajah Sumatra Lahir di Taman Nasional Tesso Nilo

Rudi Kurniawansyah
02/6/2016 19:32
Seekor Anak Gajah Sumatra Lahir di Taman Nasional Tesso Nilo
(ANTARA FOTO/Septianda Perdana)

INDUK Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) bernama Lisa, 30, di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) melahirkan seekor anak gajah berkelamin betina dalam kondisi sehat dengan bobot seberat 119 kilogram sekitar pukul 3.30 WIB, Rabu (1/6).

Kelahiran gajah betina yang merupakan anak ketiga dari induk gajah Lisa itu menambah jumlah gajah jinak sebanyak 7 gajah di kawasan pelatihan gajah jinak Flying Squad TNTN di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Tujuh gajah itu di antaranya dua gajah jantan dan dua gajah betina. Kemudian tiga anak gajah yang terdiri dari dua jantan dan satu betina yang baru lahir.

Kepala Balai TNTN Darmanto kepada Media Indonesia mengatakan, kelahiran anak gajah itu membawa harapan baru terhadap upaya konservasi satwa langka dilindungi yang ada di Kabupaten Pelalawan khususnya dan Riau pada umumnya.

"Kelahiran anak gajah pada 1 Juni membawa harapan terhadap dunia konservasi di Pelalawan dan Riau. Kelahiran berlangsung secara normal dan baik dengan ditangani langsung oleh dokter Rini dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau," ungkap Darmanto, Kamis (2/6).

Dia menjelaskan, selama 10 hari ke depan, induk dan anak gajah yang baru lahir tersebut akan dijaga dan diawasi secara intensif selama 24 jam penuh. Adapun perkembangan kondisi kedua hewan tambun itu terlihat sangat sehat dan baik.

"Untuk soal pemberian nama kami sudah ajukan petunjuk kepada Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya serta Dirjen SDA di Jakarta.

Dalam waktu dekat, kami akan gelar acara selamatan potong tumpeng yang bakal diikuti Gubernur Riau dan Bupati Pelalawan. Mengenai lahirnya bertepatan dengan hari lahir Pancasila mungkin bisa jadi pertimbangan untuk nama, kata Darmanto.

Dia menambahkan, sesuai hasil survei yang diadakan WWF Indonesia, LIPI, dan BBKSDA Riau pada 2015 lalu, di TNTN diperkirakan populasi gajah sumatra di TNTN berjumlah sebanyak 150 gajah yang tersebar di areal seluas 83.068 hektare.

Hingga saat ini, belum pernah terjadi konflik antara satwa dilindungi itu dengan manusia pada areal TNTN meski pada sejumlah kawasan kantong gajah di Riau konflik kerap terjadi.

"Tidak ada konflik gajah dan manusia di TNTN. Ini berkat dukungan dari semua pihak termasuk Pak Wisnu Direktur WWF Indonesia sehingga TNTN menjadi aset untuk konservasi lingkungan di Riau," ujar Darmanto.

Humas WWF Indonesia Program Riau Samsidar mengatakan, kelahiran anak ketiga dari induk gajah Lisa merperkokoh tekad lembaga lingkungan dunia itu untuk upaya penyelamatan konservasi satwa langka itu di Riau.

"Kelahiran anak gajah ini juga menambah jumlah anggota gajah flying squad yang dibina WWF di Tesso Nilo. Sebelumnya, Lisa telah melahirkan dua anak Nella dan Imbo. Namun sayang anak gajah Nella meninggal karena sakit," ujar aktivis yang akrab disapa Sammi.

Dia menambahkan, anggapan gajah sebagai hama yang dimusuhi sejumlah masyarakat lantaran memakan tanaman perkebunan harus segara dihilangkan. Menjaga kelestarian hewan langka berbadan besar itu harus menjadi kewajiban dari masyarakat.

"Apalagi gajah juga kerap menjadi sasaran pemburu yang mengincar gadingnya yang bernilai mahal," katanya. (RK/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya