Wagub Jabar: Hari Krida Momentum Selesaikan Masalah Petani

Cikwan Suwandi
02/6/2016 17:59
Wagub Jabar: Hari Krida Momentum Selesaikan Masalah Petani
(ANTARA/PUSPA PERWITASARI)

WAKIL Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar meminta peringatan Hari Krida ke-44 Pertanian Nusantara se-Jabar menjadi momentum menyelesaikan permasalahan kesejahteraan petani dan nelayan di daerah dalam menyokong ketahanan pangan Indonesia.

"Hari Krida bukan merupakan ajang hura-hura, tetapi harus menjadi komunikasi dan diskusi petani dan nelayan lintas daerah untuk menciptakan inovasi dalam mengatasi permasalahan di daerahnya masing-masing," ucap Deddy kepada Wartawan seusai membuka peringatan Hari Krida ke-44 di Kampung Budaya, Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Karawang, Kamis (2/6).

Pria yang akrab dengan panggilan Demiz itu menyebutkan, dalam mengatasi permasalahan dunia pertanian dan nelayan ini perlu adanya identifikasi masalah dan penguatan validasi data yang akurat.

"Kan lucu, kalau misalnya penghasil padi terbanyak di Indonesia (Indramayu) tetapi juga penerima raskin terbanyak. Tentu permasalahan kesejahteraan ini penting, untuk mengukurnya perlu data yang akurat bagaimana keadaan pertanian, stok pangan dan ekonomi. Jangan sampai data-data ini hanya dipermainkan oleh spekulan. Tolong diskusikan itu, dan kita bareng-bareng perangi," ucapnya.

Demiz juga menyebutkan, Jawa Barat menjadi wilayah investasi Indonesia terbesar di Indonesia dengan angka 60%. Kemajuan itu akan menyusutkan lahan pertanian.

"Contoh Karawang yang awalnya penghasil gabah tertinggi, tetapi saat ini kalah oleh Indramayu. Dua-duanya penting, tetapi kita harus pikirkan bagaimana inovasi melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian untuk meningkatkan produksi," katanya.

Ia juga meminta, program-program inovasi pertanian harus ditunjukan oleh para petani untuk menjaga menjauhkan Indonesia dari rawan pangan. "Jangan sampai kita peternak ayam tidak mampu makan ayam, kita petambak ikan tapi tidak mampu makan ikan," terangnya.

Saat ini, menurut Demiz, Jabar menjadi penyumbang beras sebanyak angka 12 juta ton atau 17% dari produksi nasional. Adapun kebutuhan 46 juta warga Jabar hanya 4,6 juta ton beras per tahun.

"Berarti sisanya masih bisa membantu daerah lain, tetapi masalahnya beras tersebut larinya ke mana. Sehingga validasi data ini sangat penting untuk mengetahui permasalahan," terangnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan (Distanhutbunak) Karawang, Kadarisman, mengakui akan membuat branding beras untuk mengukuhkan beras asli Karawang.

"Saya sudah koordinasi dengan bupati dan wakil bupati untuk membuat branding beras," ungkapnya.

Ia mengakui sejauh ini perdagangan beras secara nasional terkadang sering membuat beras Karawang pergi ke luar daerah tanpa kabar. "Misalnya daerah Cianjur butuh beras Pandanwangi, tetapi karena produksinya sedikit di sana, mereka terkadang mencari langsung ke petani dan penggiling beras di Karawang," tuturnya.

Untuk itu, pihaknya berencana akan membuat aturan branding Karawang melalui pemasangan karung berlogo Karawang. "Nanti setiap penggilingan harus menyediakan karung-karung berlogo asli Karawang, sehingga secara pendataan akan mudah," ujarnya.

Namun, ia mengaku beras branding Karawang juga harus dijaga kualitasnya. "Nanti ada MoU dengan penggilingan, jangan sampai mereka memasukan beras tanpa kualitas," pungkasnya. (CS/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya