Sukses Klaten Majukan Usaha Sapi Perah

MI/DJOKO SARDJONO
25/6/2015 00:00
Sukses Klaten Majukan Usaha Sapi Perah
(MI/DJOKO SARDJONO)
JATINOM merupakan salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang berhasil mengembangkan usaha ternak sapi perah.

Keberhasilan itu tidak terlepas dari dorongan kuat Bupati Sunarno yang berobsesi susu sapi Jatinom menjadi produk unggulan daerah. Raihan sukses pengembangan usaha kelompok ternak sapi perah tersebut juga berkat campur tangan Koperasi Unit Desa (KUD) Mandiri Jatinom. Koperasi yang menampung dan memasarkan seluruh hasil susu peternak ke perusahaan industri pengolahan susu di Jakarta dan Boyolali.

Dari sisi topografi, Jatinom dengan ketinggian 200-400 meter di atas permukaan laut (dpl), memang cocok untuk wilayah pengembangan sapi perah. Karena itu, guna memenuhi kebutuhan susu nasional, Bupati Sunarno pun bertekad memajukan usaha ternak sapi perah Jatinom. Memiliki luas wilayah 35,55 kilometer persegi dan berpenduduk sekitar 66.800 jiwa yang mayoritas bekerja di sektor pertanian, Jatinom sejak lama dikenal sebagai penghasil susu. Tepat, jika bupati menjadikan Kota Apem Yaqowiyu itu sebagai wilayah pengembangan sapi perah.

Memang, masa depan usaha kelompok ternak sapi perah Jatinom cukup menjanjikan. Saat ini, peternak yang menjadi anggota KUD Mandiri berjumlah 1.260 orang. Mereka bergabung dalam 16 kelompok yang setiap hari mampu menyetor susu ke koperasi sebanyak 10.400 liter. KUD membeli susu dari peternak seharga Rp3.750 hingga Rp4.500 per liter.

Menurut Ketua KUD Jatinom Joko Siswanto, selanjutnya susu disetorkan ke pabrik susu seharga Rp5.000 per liter. Harga tersebut sesuai dengan kualitas yang ditetapkan pabrik.

"Kualitas dan produksi susu tergantung pakan hijauan dan konsentrat. Karena itu, pakan yang diberikan harus memenuhi kebutuhan pokok agar kualitas dan kuantitas produksi susu bisa optimal," ujar Joko Siswanto selaku pembina Kelompok Ternak Sapi Perah Maju Makmur, Desa Krajan, dan Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Tengah.

Produksi susu Jatinom, kata Joko, terus dipertahankan di posisi lebih dari 10 ribu liter per hari. Itu dilakukan dengan penyediaan pakan berupa hijauan dan konsentrat sehingga produksi susu di kisaran 20 liter-29 liter per ekor per hari.

Pemenuhan kebutuhan hijauan, setiap peternak membutuhkan lahan hijauan jagung 700 meter persegi hingga 1.000 meter persegi. Sutomo, Ketua Kelompok Ternak Sapi Perah Maju Makmur Desa Krajan yang saban hari menyetor susu 600 liter ke KUD Jatinom, mengakui kualitas pakan hijauan menjadi penentu utama produksi susu sapi perah.

Kelompok Ternak Sapi Perah Maju Makmur Desa Krajan kini beranggotakan 27 peternak dengan jumlah sapi 64 ekor. Ternak sapi ini bantuan dari Kementerian Pertanian RI melalui Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah.

Kandang komunal yang dibangun di atas lahan 5.000 meter persegi dengan biaya Rp850 juta dari bantuan APBD II Klaten 2012.

Kisah sukses kelompok peternak Desa Krajan itu membuat kandang komunal sering dikunjungi pejabat dari Kementerian Pertanian dan Pemprov Jawa Tengah, juga untuk studi banding dan kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan perguruan tinggi lainnya.

Untuk pengembangan usaha kelompok ternak sapi perah di Jatinom, Ketua Kelompok Maju Makmur Sutomo dan Ketua KUD Jatinom Joko Siswanto mengharapkan pemerintah memberikan tambahan lagi jumlah sapi karena saat ini kepemilikan sapi anggota kelompok paling banyak lima ekor. Jumlah yang ideal, kepemilikan peternak enam ekor sampai 10 ekor.

"Harapan kami ada bantuan lagi sapi jenis FH (Friesian Holstein) dalam keadaan bunting tiga bulan. Hal ini dimaksudkan untuk keberlangsungan peternak menjaga dan meningkatkan produksi susu, guna mewujudkan impian besar bupati, bahwa susu sapi Jatinom menjadi produk unggulan daerah dan percontohan di Jawa Tengah," ujar Joko.

Bantuan sapi

Bupati Klaten Sunarno menyambut harapan peternak. Apalagi, wilayah Jatinom memang menjadi wilayah pengembangan kawasan peruntukan peternakan. Beberapa wilayah yang berpotensi, yakni Bayat, Gantiwarno, Cawas, Jogonalan, Prambanan, Manisrenggo, Tulung, Karangnongko, dan Kemalang.

Klaten sebagai kawasan agropolitan, kata Bupati Sunarno, pengembangan wilayah kabupaten ini perlu ada pengendalian dan optimalisasi pemanfaatan lahan, sesuai produk unggulan dan potensi daerah yang diselaraskan dengan tata ruang wilayah.

Potensi pengembangan wilayah, sebagaimana diatur dalam Pasal 21 Perda No 11 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Klaten 2011-2031, bahwa potensi pengembangan wilayah perlu memerhatikan pola ruang yang meliputi kawasan lindung dan budi daya.

"Karena itu, kami akan mengusahakan lagi bantuan untuk pengadaan sapi perah. Bantuan tidak hanya bersumber dari APBD II, APBD I, dan APBN. Bisa juga dari program corporate social responsibility (CSR) beberapa perusahaan," kata Bupati Sunarno. (N-25)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya