Purwakarta Gelar Duel Jawara Maranggi

MI/Reza Sunarya
24/6/2015 00:00
Purwakarta Gelar Duel Jawara Maranggi
(MI/Reza Sunarya)
MARANGGI Cibungur sudah tidak asing bagi telinga warga Jawa Barat. Kuliner yang menyerupai satai ini banyak dijumpai di Kabupaten Purwakarta.

Karena itu, maranggi pun identik dengan kabupaten terkecil kedua di Jawa Barat ini. Dinas Pariwisata Purwakarta mencatat setidaknya ada 400 pengolah maranggi. Sebagian berdagang menetap dan tidak sedikit juga yang menjual secara berkeliling.

Untuk lebih mendongkrak nama maranggi, Pemerintah Kabupaten Purwakarta menggelar Duel Jawara Maranggi di Taman Maya Datar, kompleks Alun-Alun Purwakarta, akhir pekan lalu. Duel yang digelar untuk pertama kalinya ini diikuti 26 peserta yang merupakan perwakilan kecamatan.

"Para peserta harus memperagakan mulai tahapan pembuatan bumbu, merendam daging maranggi, hingga pembakaran. Hidangan akan dinilai juri, dan pengunjung juga bisa menikmati maranggi olahan peserta," kata Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Perhubungan, Kebudayaan, Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Purwakarta, Norman Nugraha. Untuk juri, panitia tidak mau tanggung-tanggung. Pakar kuliner Bondan Winarno 'Mak Nyoos' dihadirkan bersama chef Yudi dan chef Chica Hindarto.

"Kami menilai kekhasan olahan bumbu atau saus, juga tekstur penyajian maranggi, serta rasa dagingnya. Tidak lupa juga kami menilai makanan pendampingnya, seperti nasi timbel dan ketan ulen. Ini yang membuat berbeda maranggi khas Purwakarta" jelas Bondan.

Paten
Dalam kesempatan itu, Pemkab Purwakarta juga menandatangani kerja sama dengan Serambi Petani dan Indonesia Halal Center untuk menyediakan bahan-bahan organik untuk bumbu penyedap maranggi. Itu akan melengkapi rencana pemkab mendaftarkan hak paten maranggi ke Dirjen Kekayaan Hak Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM, sebagai kuliner khas Purwakarta. Pemkab juga akan mengajukan sertifikat halal dari lembaga terkait untuk makanan ini.

"Kami akan terus berupaya mengembangkan produk khas Purwakarta. Kami ingin maranggi mendapat pengakuan dunia internasional sebagai warisan kekayaan masyarakat Purwakarta," ungkap Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Ia mengakui maranggi khas Purwakarta belum banyak dikenal di tingkat nasional dan internasional. Duel Jawara Maranggi ialah event untuk mendorong orang lebih mengenal makanan ini.

Mencari maranggi di Purwakarta bukan perkara sulit. Pedagangnya tersebar mulai dari Plered, Wanayasa, Bungsursari, hingga Sukatani. "Dari tingkat kabupaten, ke depan kami ingin mencari jawaranya untuk tingkat nasional juga," tandas Dedi.

Pada rangkaian acara, Pemkab Purwakarta juga menggelar seminar dan sarasehan tentang maranggi. Para pengusaha dan pengamat bersepakat mendeskripsikan maranggi, mulai pembuatan bumbu, perendaman daging, hingga asal muasal nama maranggi. Dari pertemuan itu juga terungkap bahwa maranggi dikenalkan oleh seorang perempuan asal Desa Cianting, Kecamatan Plered, bernama Ma Anggi. Dia memasak dan menjual maranggi dan sudah menurunkannya hingga empat generasi. (Reza Sunarya/N-25)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya