Prostitusi ABG di Batam Gawat Darurat

Hendri Kremer
30/5/2016 19:28
Prostitusi ABG di Batam Gawat Darurat
(Ilustrasi)

SAMBIL senyum sendiri, Asa--demikian kira-kira panggilannya--, 13, tidak henti-hentinya memelototi layar telepon genggam merek Samsung Galaxy J3 miliknya.

Telepon genggam itu baru dia beli, hasil dugem beberapa pekan lalu bersama apek-apek--julukan bagi lelaki paruh baya--Singapura, yang haus 'daun muda'.

Untuk daun muda, jika boleh istilah itu dipakai, mereka memberikan uang sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta untuk sekali booking. Undang-Undang di Singapura yang ketat soal praktik prostitusi memag membuat para penggila seks di usia senja mencari alternatif murah di negeri seberang. Mereka pun 'lari' ke Batam yang terdekat untuk memuaskan hasratnya.

Apek-apek itu biasanya memanfaatkan jasa sopir taksi tembak untuk mendapatkan kepuasaan dari daun muda seperti Asa. Tentu dengan memberikan komisi yang lumayan kepada si sopir.

Bagaimana pun, remaja seperti Asa ialah korban, korban kebuasan sifat manusia. Juga keegoisan orang tua. Sehingga gadis manis seperti Asa tergiur menjajakan diri, demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Tempat-tempat hiburan malam yang tersebar di Batam merupakan lahan empuk untuk mereka menjajakan diri untuk dalih menyambung hidup. Masalah ekonomi serta himpitan problem keluarga merupakan latar belakang mereka terlibat dalam pusaran bisnis haram tersebut.

Bahkan, para ABG (anak baru gede) itu seperti tidak tahu lagi mau kemana tujuan hidup mereka. Itulah potret sebagian kecil anak putus sekolah di Batam, Kepulauan Riau. Jumlahnya mungkin ribuan. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Kepri pun tidak lengkap. Bahkan, KPAID seperti kecolongan dengan remaja yang melakukan praktik prostitusi liar.

"Sulitnya kami tidak mendapatkan data yang akurat dari dinas pendidikan, atau yang terkait dengan aktivitas remaja. Sulit mendata mereka. Inilah kendalanya. Satu-satunya solusi adalah memberikan perhatian khusus kepada mereka yang terjerumus. Sebab mereka adalah korban," kata Ketua KPAID Kepri Eri Syahrial, kepada Media Indonesia, Senin (30/5).

Menurut dia, satu-satunya cara ialah dengan mengumpulkan banyak informasi terkait dengan praktik prostitusi di bawah umur yang berlangsung di Batam. Sebagian besar dari mereka ialah remaja putus sekolah. Dan terlibat dengan pergaulan bebas. Tindakan paling tepat, katanya, dengan melakukan razia ke tempat-tempat hiburan malam di Batam.

Hingga saat ini, informasi tentang prostitusi di bawah umur di Batam bukanlah hal yang baru. Salah seorang pengamat sosial dari Universitas Riau Kepulauan Rahmad Riyandi mengatakan, jumlah prostisusi anak di Batam mencapai ribuan. Hampir sebagian besar tempat hiburan di Batam menyajikan anak-anak di bawah umur untuk melayani turis asing, khususnya dari Singapura.

Bahkan, mereka ada yang dibawa ke Singapura dan dijadikan simpanan oleh apek-apek Singapura. Hal itu sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun, tidak ada tindakan apa-apa dari pemerintahan setempat. Bahkan razia yang dilakukan seperti tidak berdampak apa-apa.

"Kartu tanda penduduk (KTP)-nya bisa saja dipalsukan. Ada pasti orang yang menguruskan hal itu. Jika ini terjadi, Batam adalah surga seks bagi para maniak seks. Tidak dapat dibayangkan apa jadinya, generasi muda di Batam yang dieksploitasi secara seks," tegasnya.

Dia menuturkan jika di Indonesia saja jumlah remaja yang putus sekolah mencapai 12 juta orang. Di Batam sekitar 1% dari jumlah itu, remaja putus sekolah. Hal itu, lanjut Eri, dilatarbelakangi perekonomian di Batam.

Perusahaan banyak tutup sehingga berpengaruh kepada orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya. Ditambah lagi masalah internal keluarga memperparah kondisi psikologis remaja yang sedang tumbuh berkembang.

"Artinya remaja-remaja di kawasan industri tidak siap menerima apa yang terjadi dengan kondisi orangtua mereka. Bahkan mereka ada yang malu untuk sekolah setelah mendengar orangtuanya sudah tidak bekerja lagi," paparnya.

Dia mengungkapkan, tidak ada jumlah pasti anak-anak yang dipekerjakan sebagai prostitusi di sejumlah tempat hiburan di Batam, tapi dia memperkirakan bisa mencapai 1.000 orang. Hal ini terlihat dari jumlah setiap wanita penghibur di satu tempat saja di Batam mencapai 30 orang, sedangkan jumlah tempat hiburan malam di Batam mencapai 100.

"Perkiraan kami sekitar 1.000-an orang, ini belum lagi yang masuk dari luar daerah untuk dipekerjakan sebagai pelaku seks, jumlahnya bisa lebih. Pemerintah harusnya turun tangan. Sebab, jika hanya pemerintah daerah yang menangai tidak akan pernah tuntas," katanya.

Dia mengkhawatirkan jumlah prostitusi anak di Batam dalam jangka waktu satu tahun ke depan jumlahnya semakin banyak. Sebab, uang yang dihasilkan anak-anak belasan tahun itu menggiurkan.

Hal senada juga dikatakan oleh pengamat hukum Batam Rumbadi Dalle. Ia mengatkaan, selama ini pemerintah daerah tidak banyak merespons masalah prostitusi anak di Batam. Padahal, jumlahnya semakin lama semakin tidak terkontrol.

Dia menilai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak untuk diterapkan di daerah seperti dipandang sebelah mata. "Buktinya setiap tempat keramaian di Batam setiap hari dipenuhi dengan anak-anak usia sekolah. Pihak pusat perbelanjaan juga membiarkan anak-anak dengan seragam sekolah masuk ke mal. Jadi, UU tentang Perlindungan Anak di Batam tidak efektif," tukasnya.

Seks bebas di kalangan anak usia sekolah di Batam sering terjadi. Pemerintah Kota Batam dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Batam tidak pernah melakukan sosialisasi terkait masalah tersebut. Akhirnya anak-anak tersebut menjadi korban, karena besarnya rasa ingin tahu mereka terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya.

"Tempat hiburan malam tidak pernah melakukan pemeriksaan kepada pengunjung. Razia bisa dihitung pakai jari. Jika ada razia biasanya mereka sudah kabur dari pintu belakang," katanya.

Wali Kota Batam Rudi ketika dimintai konfirmasi mengenai hal tersebut tidak mengetahui adanya prostitusi anak di tempat hiburan malam di Batam. Pihaknya berupaya untuk melakukan pengawasan yang ketat jika memang ada. (HK/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya