Wajah Baru Bandara di Timur RI

Alexander P Taum
30/5/2016 04:30
Wajah Baru Bandara di Timur RI
(Alexander P. Taum Flores)

PEMERINTAH pusat menggelontorkan anggaran Rp200 miliar untuk memperpanjang landasan pacu Bandara Wunopito di Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Landasan pacu bandara sepanjang 1.200 meter itu akan ditambah menjadi 1.500 meter. "Dikerjakan awal Juli mendatang," kata Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lembata, Rafael Betekeneng, pekan lalu. Pemkab Lembata telah mempersiapkan anggaran Rp6 miliar untuk pembebasan lahan yang dimasukkan APBD Perubahan. Empat pemilik lahan sudah menyetujui pembebasan lahan. "Saat ini pemkab baru punya Rp500 juta sehingga negosiasi masih berjalan. Semoga disepakati model pembayaran ci-cilan agar bandara bisa diperpanjang tahun ini," ujar Rafael. Sejumlah maskapai penerbangan mengeluhkan landasan pacu yang tergolong pendek di bandara ini karena hanya bisa diisi dua pesawat, yakni Trans Nusa dan Susi Air setiap hari. Sebagai salah satu pintu masuk ke Pulau Flores, Bandara Frans Seda Maumere pun terus dipoles. Strip run way tengah dibangun di bandara itu dengan persyaratan maksimum 300 meter. Strip run way yang mengarah ke pantai Kota Maumere membentur badan jalan utama Trans-Flores. Kepala Bandara Frans Seda Maumere, Yohanes R Keraf, mengatakan, Bandara Frans Seda kini dilengkapi perangkat pendukung pendaratan bila cuaca tidak bersahabat, seperti kondisi kabut atau hujan.

Secara terpisah, Ketua Komisi V DPR Fary Djemy Francis terus mendorong PT Angkasa Pura I untuk mengembangkan terminal penumpang Bandara El Tari Kupang. Tahun ini, terminal itu akan dilengkapi dua garbarata, yaitu jembatan berdinding dan beratap yang menghubungkan ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat. Sebagai pintu masuk ibu kota provinsi, Fary menilai, Bandara El Tari punya kondisi terminal yang lebih jelek jika dibandingkan dengan Bandara Komodo di Manggarai Barat dan Terminal Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya. DPR juga mendorong dilakukannya evaluasi pemindahan El Tari dari lokasi saat ini yang berada di kawasan TNI-AU.

Ramah lingkungan
Dari Bali, pembangunan bandara di kawasan Kubutambahan Kabupaten Buleleng dinilai memainkan peran penting dalam menyeimbangkan pertumbuhan pembangunan di Bali. Ini sekaligus menyikapi kondisi Bandara Ngurah Rai yang terlalu padat. Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, menyatakan pembangunan bandara di Kubutambahan membutuhkan dana Rp50 triliun dari investor. Namun, rekomendasi lokasi bandara belum juga diperoleh dari Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana. Padahal, Made mengaku sudah mengeluarkan rekomendasi lokasi pembangunan bandara itu, April lalu.

Dengan menggandeng konsultan asal Kanada, Airport Kinesis Consultant (AKC), bandara ini didesain ramah lingkungan. Total lahan yang akan dibangun bandara berjumlah 1.400 ha dan hanya 200 ha yang dibangun di darat. Sisanya mengapung di atas laut. Bandara didesain bisa menghasilkan listrik sendiri dari arus laut dan menghasilkan air bersih melalui proses desalinasi. "Bandara juga akan dilengkapi dengan jalur kereta api untuk mengangkut penumpang dari lahan parkir," jelas konsultan AKC Indonesia, Made Mangku Pastika. (PO/RS/OL/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya