HARGA beras yang tinggi dan berbau membuat warga di Kota dan Kabupaten Madiun, Jawa Timur, menolak membeli beras operasi pasar yang digelar Pemprov Jawa Timur.
"Siapa mau beli beras operasi pasar? Berasnya stok lama dan harganya Rp8.500 per kg, sedangkan beras premium di pasaran hanya Rp8.000 per kg. Lebih murah, beras yang dijual di pasar lebih bagus kualitasnya," kata Wiwik Sunarti, 45, warga Desa Slambur, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, kemarin.
Operasi pasar Pemprov Jatim di Madiun dilaksanakan PT Jatim Nusa Usaha dengan menjual beras, minyak goreng, gula, dan tepung. Empat lokasi dijadikan tempat operasi pasar. Warga pun memilih membeli minyak goreng, gula, dan tepung, sedangkan untuk beras, mereka membeli di pasar.
Heru, petugas PT Jatim Nusa Usaha, membantah beras yang dijual berbau apek. "Kalau harganya lebih mahal dari pasaran mungkin benar karena petani juga banyak yang panen, tapi beras kami tidak bau apek," tegasnya.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur memastikan ketersediaan stok beras jenis premium masih mencukupi hingga 12 bulan ke depan. "Jadi masyarakat tidak perlu khawatir terjadi kelangkaan atau harga akan naik. Stok kita sangat banyak," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Warni Hari Sasono di Surabaya.
Selain beras premium, lanjutnya, raskin dan beras medium yang dikelola Bulog masih cukup aman hingga delapan bulan mendatang.
Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Bulog divre setempat menggelar operasi pasar beras mulai hari ini untuk mencegah harga yang bergejolak.
Kabid Pelayanan Publik Bulog Divre NTT Alex Malelak mengatakan sampai awal pekan ini, stok beras di Kupang berjumlah 25.079 ton, cukup untuk kebutuhan selama 2,7 bulan.
"Jumlah itu belum termasuk 200 ton beras dari Nusa Tenggara Barat dan 100 ton dari Banyuwangi, Jawa Timur," ujarnya.
Sebaliknya, harga beras di sentra produksi padi di Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, anjlok. Harga beras anjlok setelah petani memasuki panen raya satu pekan terakhir.
Jika harga beras sebelumnya Rp9.500 per kg, kini turun menjadi Rp7.000 per kg atau di bawah harga pembelian pemerintah. (ST/FL/PO/N-4)