Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PETANI bawang merah asal Brebes Jawa Tengah mengandalkan benih unggul dalam produksinya karena disamping biaya lebih murah serta hasilnya juga lebih banyak jika dibandingkan dengan menggunakan umbi.
"Kalau menggunakan umbi biayanya sekitar Rp45 juta per hektare (ha), tapi kalau menggunakan benih atau biji unggul hanya sekitar Rp5 juta," kata Ketua Kelompok Tani Desa Sitanggal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Yus Badruzaman, di Jakarta, Selasa (24/5).
Yus yang dijumpai usai mengikuti kegiatan seminar dan pameran bertajuk 'Financial Inclusion bagi Petani' yang dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan sebanyak 30-40% kebutuhan bawang merah nasional dipasok dari Brebes.
Lebih jauh, ia mengatakan produksi menggunakan benih unggul juga lebih besar sebanyak 13 ton/ha dan dalam kondisi optimal bisa menghasilkan 15-20 ton/ha, sedangkan menggunakan umbi hanya 12 ton/ha. Tidak mengherankan jika sebagian besar petani bawang merah di Brebes saat ini mulai beralih menggunakan benih unggul.
Menurut dia, salah satu benih unggul bawang merah yang banyak dipergunakan petani di Brebes adalah Tuk-Tuk produksi PT East West Seed Indonesia (Ewindo), tetapi untuk menanamnya harus memiliki teknik khusus agar bawang merah yang dihasilkan tidak terlalu besar.
Masyarakat Indonesia lebih suka bawang merah yang tidak terlalu besar, untuk itu ada beberapa teknik untuk menyiasatinya seperti waktu tanam bukan saat musim hujan, serta jarak tanamnya dibuat lebih pendek.
"Melalui teknik bertanam yang demikian membuat benih bawang merah Tuk-Tuk lebih hemat dalam penggunaan pestisida serta produksi lebih banyak," jelasnya.
Yus mengatakan saat ini Ewindo kembali meluncurkan benih unggul baru bawang merah dengan produksi sudah disesuaikan dengan pasar Indonesia, hanya saja volumenya masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan petani.
Pada awal bertani bawang merah seperti halnya petani di Brebes lainnya masih menggunakan umbi, tetapi pada 2007 baru diperkenalkan bercocok tanam menggunakan benih unggul.
Namun, imbuh Yus, seperti daerah produsen bawang merah di Tanah Aira lainnya, juga mengalami persoalan terkait dengan fluktuasi harga di tingkat petani yang terkadang sangat rendah sehingga merugikan petani.
"Kalau harga di tingkat petani di atas Rp20.000 per kilogram, maka petani diuntungkan, tetapi kalau sudah mencapai Rp10.000/kg atau bahkan di bawahnya, maka petani akan menderita kerugian," kata dia lagi.
Persoalan tersebut juga disampaikan kepada Wapres Kalla saat berkunjung ke booth bawang merah Brebes. Dia berharap pemerintah dapat mengatur tata niaga bawang merah agar petani masih dapat untung, tetapi harga di pasar juga tidak terlalu tinggi.
Yus juga menyampaikan kepada Wakil Presiden agar pemerintah dapat membatasi impor bawang merah, karena pada prinsipnya setiap 1 ton impor bawang merah akan mengurangi 80 HOK (Hari Orang Kerja) usaha budidaya bawang merah di Indonesia.
Sementara itu, Managing Director Ewindo Glenn Pardede mengatakan, sebagai perusahaan produsen benih hybrida sayuran di Indonesia, pihaknya selalu terpanggil untuk mendorong produktivitas dan menciptakan pertanian efektif bagi petani dengan mengenalkan teknik baru budidaya bawang merah melalui benih.
Glenn berharap dengan dikenalnya teknik baru ini akan membuat kesejahteraan petani lebih meningkat. Bukan hanya mengenalkan budidaya bawang merah melalui benih, Ewindo juga telah memberikan pelatihan persemaian bawang kepada petani. Pelatihan ini diikuti oleh ratusan petani bawang di seluruh Indonesia. (Ant/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved