2 Jenazah Anak Buah Santoso Dievakuasi ke Palu

M Taufan SP Bustan
18/5/2016 20:18
2 Jenazah Anak Buah Santoso Dievakuasi ke Palu
(ANTARA/Basri Marzuki)

DUA jenazah anggota kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang tewas dalam baku tembak di Poso, Sulawesi Tengah, akhirnya berhasil dievakuasi ke Palu, Rabu (18/5).

Dengan pengawalan ketat dan penuh dari personel Brimob bersenjata lengkap, jenazah yang diangkut dalam satu mobil ambulans tersebut langsung dimasukkan ke kamar jenazah Rumah Sakit (RS) Bhayangkara.

Kabid Humas Polda Sulteng AKB Hari Suprapto mengatakan, di kamar jenazah RS Bhayangkara, kedua jenazah itu akan menjalani proses identifikasi lebih lanjut oleh tim Inafis Polda.

"Identifikasi diperlukan untuk mengetahui pihak keluarga masing-masing jenazah. Kami juga melalui laporan media massa mengharapkan adanya keluarga yang mengklaim agar bisa langsung mendatangi Polda Sulteng atau ke RS Bhayangkara untuk diambil sampel DNA-nya," katanya di Palu.

Hari menyebutkan, proses evakuasi dari TKP di Desa Pantangolemba terpaksa menyita waktu yang cukup banyak karena medan di lokasi yang tidak bersahabat. Selain jaraknya yang terbilang jauh, juga disebabkan tidak adanya jalur yang bisa dilalui kendaraan jenis apa pun.

"TKP dari perkampungan itu cukup jauh, sementara evakuasinya dilakukan dengan jalan kaki. Makanya tidak heran petugas baru bisa berhasil mengevakuasi tiga hari pascakejadian baku tembak Minggu (15/5) lalu," jelas Hari.

Berdasarkan hasil indentifikasi sementara, dua anak buah Santoso alias Abu Wardah tersebut masing-masing bernama Firman alias Aco alias Ikrima dan Yazid alias Taufik. Untuk Firman diketahui berasal dari Poso. Sedangkan Yazid berasal dari Jawa.

Mereka berdua diketahui telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) yang baru dirilis Polda.

Sementara itu, seusai olah tempat kejadian perkara (TKP) ditemukan sejumlah barang bukti milik kelompok tersebut. Di antaranya, senjata api, amunisi aktif, selongsong amunisi, empat tas ransel berisi bahan makanan, satu GPS, satu telepon seluler, dan lima bom rakitan jenis lontong aktif.

Saat ini, seluruh barang bukti sudah diamankan di Polda untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Sebelumnya, baku tembak tim gabungan TNI-Polri dengan kelompok MIT pecah di antara Perkebunan Tampe Payoe dengan Pegunungan Uemaeya Desa Pantangolemba, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Minggu (15/5) sekitar pukul 16.35 Wita. Dalam peristiwa itu, dua anggota MIT tewas.

Baku tembak tersebut pecah saat TNI dan Polri yang masuk dalam Satuan Tugas Operasi Tinombala sedang melakukan patroli di sekitar TKP. Saat itu, aparat tiba-tiba melihat sekelompok orang bersenjata dari arah selatan sedang menuruni pegunungan menuju ke arah sungai yang berada di TKP.

Melihat sejumlah orang tak dikenal bersenjata laras panjang, pasukan kemudian langsung melakukan penembakan. Kontak senjata terjadi setelah kelompok bersenjata tersebut membalas tembakan aparat yang berlangsung hampir dua jam.

Hingga saat ini pun di Kecamatan Poso Pesisir Selatan diintensifkan patroli dan penyekatan di jalanan yang menghubungkan antara Kecamatan Poso Pesisir Selatan dan kecamatan lainnya.

Sementara berdasarkan data intelijen Polri diketahui bahwa jumlah kelompok yang telah terafiliasi dengan Islamic State tersebut tersisa 20-an orang. Dari jumlah itu sudah termasuk pimpinan MIT Santoso alias Abu Wardah, satu WNA asal Suku Uighur, Xinjiang, Tiongkok, dan tiga perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat.

Saat ini pun mereka dilaporkan telah terpecah ke beberapa titik di Poso, pun demikian mereka sudah tidak berjumlah banyak lagi, tapi masih diperkuat dengan peralatan perang yang sangat mematikan seperti senjata api organik, bom, dan pelbagai jenis peralatan perang lainnya. (TB/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya