Polisi Masih Buru Pembantai Satu Keluarga di Banyuasin

Dwi Apriani
17/5/2016 20:05
Polisi Masih Buru Pembantai Satu Keluarga di Banyuasin
(ilustrasi)

MESKI sudah lima hari ditemukan mayat-mayat di perairan Sungai Muara Padang, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, hingga kini pihak kepolisian belum berhasil mengungkap pelakunya.

Pada Senin (16/5), Kepolisian Resort Banyuasin dibantu Kepolisian Daerah Sumatra Selatan telah melakukan penelusuran di tempat kejadian perkara yakni kediaman Tasir di Desa Indrapura Jalur 16 Kecamatan Muara Sugihan Kabupaten Banyuasin, juga di sepanjang Sungai Muara Padang yang menjadi lokasi pembuangan mayat-mayat dalam karung tersebut.

Diketahui, ada empat mayat yakni Tasir, 60, Kartini, 35, pada Jumat (13/5), kemudian Winarti, 14, pada Sabtu (14/5), dan Yani, 6, pada Minggu (15/6). Lalu pada Senin (16/5) disebutkan ada satu lagi penemuan mayat perempuan diduga ialah Roipah, istri Tasir, di lokasi yang tidak jauh dari penemuan keempat mayat sebelumnya.

Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Kombes Pol Djarot Padakova mengatakan, bersama Polres Banyuasin, pihaknya telah melakukan pemeriksaan di TKP selama satu hari. TKP itu yakni kediaman korban dan sepanjang perairan tempat dibuangnya mayat korban oleh pelaku.

"TKP ini diduga kuat adalah menjadi lokasi pembunuhan korban. Ada beberapa alat bukti yang ditemukan di TKP, yakni bercak darah dan tali plastik yang diduga digunakan untuk mengikat karung sebelum dibuang ke sungai," tutur dia, Selasa (17/5).

Ia mengatakan, pembunuhan yang dilakukan pelaku tergolong sadis. Sayangnya, pihaknya memang belum bisa menemukan jejak pelaku dan modus serta motif dari pembunuhan tersebut. "Saat ini kami memang belum tahu siapa pelakunya. Kami masih mencari keterangan dari masyarakat yang mengetahui terkait kasus ini," tukasnya.

Djarot mengimbau agar masyarakat atau keluarga korban dapat membantu dan memberikan informasi jika mengetahui hal itu. Untuk mencapai ke lokasi TKP pembunuhan itu, kata Djarot, memang sangat jauh bahkan harus dilalui dengan perjalanan kaki. Sebab, TKP berada di pertengahan sawah dan cukup jauh dari rumah penduduk lainnya.

Sementara itu, pada keempat mayat yang terlebih dulu sudah tiba di RS Bhayangkara Palembang telah diautopsi. Autopsi yang dilakukan tim dokter forensik RS Bhayangkara Palembang terhadap empat mayat yang ditemukan telah membusuk diduga kuat memang korban pembunuhan.

Hal itu diperkuat dengan hasil autopsi menunjukkan adanya penganiayaan sebelum korban meninggal. Dokter Forensik RS Bhayangkara Palembang dr Indra mengatakan, pelaku tidak hanya menggunakan benda tumpul untuk memukul para korban, tetapi juga menggunakan senjata tajam untuk menghabisi nyawa empat korban.

Seperti pada mayat yang diduga Tasir dan Kartini. Pada mayat Tasir, ditemukan banyak bekas kekerasan dan bekas luka tusukan. Tak hanya itu, rahang bagian bawah Tasir juga patah karena diduga pukulan benda tumpul. Sedangkan, mayat Kartini ditemukan bekas kekerasan di bagian kepala yang diduga dipukul menggunakan benda tumpul yang berakibat pada pendarahan di kepala.

"Pada mayat yang diduga adalah Winarti, tidak ditemukan adanya luka tusuk tetapi banyak ditemukan bekas bacokan. Di mayat ini, senjata tajam yang digunakan kurang tajam karena membuat patah pada tulang. Tangan dan kaki yang hilang, itu akibat pembusukan yang terjadi karena bekas luka bacokan yang ada di tangan dan kaki," jelasnya.

Sementara pada mayat yang diduga adalah Yani juga tidak ditemukan bekas tusukan akan tetapi banyak ditemukan bekas luka bacokan. Semua mayat yang telah dilakukan otopsi, terlebih dahulu dianiaya hingga membuat korban meninggal. "Diduga setelah korban meninggal baru dibuang ke sungai, sampai akhirnya mayat-mayat ini mengalami pembusukan," terang dia.

Untuk mayat yang diduga Roipah, yang baru tiba di RS Bhayangkara Palembang, belum dapat dilakukan autopsi. Direncanakan Rabu (18/5) besok, autopsi untuk mayat perempuan itu akan dilakukan. (DW/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya